Jeremy berdiri di depan jendela besar di ruang kerjanya, memandangi gedung-gedung tinggi yang menjulang di bawah langit senja. Wajahnya tampak tegang, rahangnya mengeras, dan tangan kanannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Di tangan kirinya, ia memegang gelas wine yang isinya tinggal separuh. Matanya memandang kosong, tetapi pikirannya penuh dengan kemarahan dan kekecewaan. “Brengsek...” gumamnya pelan namun penuh amarah. Briana telah pergi, meninggalkannya tanpa peringatan. Hanya ada pesan singkat yang tidak menjelaskan apa pun, seolah-olah semua yang terjadi di antara mereka tidak pernah ada. Jeremy tidak bisa menerima itu. Ia tidak akan membiarkan Briana pergi begitu saja, apalagi membawa anak mereka jauh dari dirinya. “Briana, apa pun yang terjadi, aku akan menemukanmu,” katanya