Briana berdiri di depan kafe, memandang ke arah pintu kaca yang menampakkan siluet ibunya di dalam. Arum tampak duduk di salah satu meja dekat jendela, menggenggam cangkir kopi dengan ekspresi gelisah. Hatinya terasa berat, tapi Briana tahu ia harus masuk. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian, lalu melangkah masuk. Begitu melihat Briana, wajah Arum langsung berubah cerah. Ia berdiri dan bergegas menghampiri putrinya. “Briana! Syukurlah kamu datang!” katanya dengan nada penuh kelegaan, lalu memeluk Briana erat-erat. “Ma...” Briana memanggil pelan, tapi suaranya hampir tenggelam oleh perasaan bersalah yang melandanya. Arum melepaskan pelukannya, lalu menatap Briana lekat-lekat. “Kamu baik-baik saja? Mama sangat khawatir. Kamu ke mana saja? Apa yang terjadi?” Arum bertan