Jeremy berdiri di depan meja sekretaris, tatapan matanya terfokus pada Briana yang duduk di kursi. Gadis itu mengangkat wajahnya, balas menatap Jeremy dengan sorot mata tajam namun penuh rasa enggan. Ketegangan di antara mereka terasa nyata, bahkan sekretaris yang berada di dekat mereka tampak canggung, berusaha terlihat sibuk dengan dokumen-dokumen di tangannya. "Briana, ayo pulang," kata Jeremy akhirnya, suaranya rendah namun tegas. Briana menghela napas panjang, menekan keinginannya untuk melontarkan kalimat pedas. Dia tahu Jeremy keras kepala, dan menolak hanya akan memperpanjang situasi ini. Tapi amarah di dadanya begitu besar, terutama karena Jeremy seolah tidak peduli dengan fakta bahwa dia adalah sumber dari semua kekacauan emosinya. “Pulang? Kenapa aku harus pergi bersama