39. Sial

1188 Kata

Ayub membimbing Salwa memasuki rumah. Tubuh Salwa sudah terlihat bugar setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Salwa duduk di sofa. Ia menoleh dan Ayub sudah tidak ada di sisinya. Suaminya itu muncul dari arah dapur membawa teh hangat, lalu menyerahkannya kepada Salwa. “Minumlah!” Ayub menganggukkan kepala. Salwa meraih gelas dan meneguknya. Lalu meletakkan gelas ke meja. Keduanya bersitatap. Keduanya merasa kaku, entah kenapa situasi rasanya berbeda saat itu. “Ayub!” “Ya?” Salwa memalingkan pandangan ke lantai. “Nabila itu cantik, kaya, baik, salihah, dia gadis yang sempurna. Kamu pasti menyukainya, kan?” ucap Salwa tanpa basa-basi. “Oh.. Mm.. Tapi kesempurnaan itu hanya milik Allah.” “Ya bener, tapi Tuhan menciptakan dia dengan sangat sempurna, juga di posisi yan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN