Hari-hari Winona berlalu tanpa semangat, tanpa arah, dan tanpa sedikit pun rasa bahagia.
Semenjak pertengkaran besar itu, rumah megah keluarga Adrian terasa seperti penjara yang dingin dan sunyi. Tidak ada lagi sapaan hangat di pagi hari, tidak ada tawa kecil dari ruang makan, tidak ada panggilan 'Papa' yang dulu sering terdengar setiap kali Winona pulang dari bermain.
Kini, semua urusan pernikahan dilakukan tanpa sepengetahuannya.
Papanya yang mengurus segalanya, tanggal akad, tempat, bahkan busana pengantin. Winona hanya menjadi boneka yang menunggu perintah, tanpa suara, tanpa pendapat.
Di ruang tamu besar yang dihiasi karangan bunga putih, Ratna sibuk dengan undangan, sementara Mischa dengan penuh semangat mencoba gaun untuk acara. Ironisnya, bukan dia yang akan menikah, melainkan kakak tirinya yang tidak punya pilihan.
Untungnya papanya memiliki pertimbangan mengingat usianya yang baru 21 tahun, artinya, ia masih muda dan tidak cocok untuk menikah.
Winona berjalan melewati mereka tanpa sepatah kata pun.
Ratna sempat menatap, tapi cepat-cepat berpaling seolah kehadiran gadis itu hanyalah bayangan yang mengganggu pemandangan.
"Winona, kamu tidak mau lihat persiapan acara?" Suara Ratna terdengar lembut, tapi ada nada sinis terselip di sana.
Winona menoleh sebentar, lalu menjawab datar. "Bukankah kamu yang bertugas untuk membuat persiapan? Sebagai seorang pembantu, ini memang tugas kamu."
Ratna pura-pura tersenyum di depan orang-orang yang sedang membantunya, tidak ingin berdebat dengan anak tiri yang tidak tahu malu karena sebentar lagi dia akan segera pergi dari rumah ini.
Siang itu, Winona memutuskan keluar rumah tanpa izin. Ia membawa tas kecil dan menuju rumah sakit tempat Celine dirawat.
Celine masih koma setelah kecelakaan yang dianggap disebabkan oleh Winona. Semua orang percaya, bahkan Papanya sendiri. Tapi kebenaran itu tak pernah terungkap karena satu-satunya saksi justru belum sadar.
Winona berdiri di depan pintu kamar VIP 201.
Tubuh Celine terbaring lemah dengan selang infus di tangan dan oksigen di hidungnya. Wajahnya pucat, tapi tetap terlihat cantik dan tenang. Melihatnya seperti itu membuat d**a Winona sesak.
Gadis itu melangkah mendekat dan menggenggam tangan Celine dengan hati-hati.
"Tolong cepat sadar. Katakan yang sebenarnya apa yang terjadi saat itu."
Air matanya menetes satu per satu.
Winona duduk di kursi samping ranjang cukup lama, berbicara pelan seolah Celine masih bisa mendengarnya.
Beberapa perawat yang masuk keluar hanya saling pandang, tahu bahwa gadis itu datang setiap dua hari sekali tanpa absen.
Sore menjelang malam, Winona memutuskan pergi ke mal bersama Cecil.
Sahabatnya itu menjadi satu-satunya orang yang tahu seluruh penderitaan Winona tanpa menilai. Cecil berkarakter ceria, blak-blakan, tapi setia.
Mereka duduk di sebuah kafe setelah berkeliling tanpa arah selama hampir satu jam.
"Kamu tuh gila, Win. Bagaimana bisa kamu masih nurut saja sama papa kamu? Kalau aku jadi kamu, aku sudah kabur ke luar negeri dari dulu," kata Cecil sambil mengaduk minumannya.
Winona menatap kosong ke arah jendela. "Kabur ke mana? Papa pasti tidak akan mengizinkan aku untuk pergi."
Cecil mendecak kesal. "Mungkin karena kamu tidak pernah melawan, makanya papa dan juga mama tiri kamu bisa seenaknya."
Winona menatapnya lemah. "Bagaimana caranya melawan orang yang bahkan tidak percaya sama anaknya sendiri?"
Cecil terdiam, menatap wajah sahabatnya yang tampak kehilangan cahaya. "Aku berdoa dan berharap semoga kamu bisa bahagia gimanapun caranya."
Mereka berjalan menyusuri koridor mal, dan tanpa sengaja, langkah mereka terhenti di depan butik terkenal. Dari balik kaca, Winona melihat seseorang yang membuat darahnya mendidih.
Mischa dengan pakaian modis, tawa manja, dan beberapa teman yang sibuk memuji-muji tas mahal di tangannya.
Harusnya dirinya juga merasakan hal yang dirasakan oleh Mischa. Sayangnya, ia justru berdiri di pihak korban, menjadi tameng bagi keluarga, menggantikan pernikahan yang seharusnya dilakukan oleh Mischa.
Malamnya, Winona pulang ke rumah dalam diam.
Lampu ruang tamu masih menyala. Di sana, Adrian sedang duduk bersama Ratna sambil membaca beberapa berkas pernikahan.
Adrian menatap anaknya sekilas saat gadis itu masuk, tapi Winona langsung berbelok menuju tangga tanpa bicara sedikit pun.
"Winona, Papa mau bicara," ucap Adrian akhirnya.
Winona terus berjalan tanpa menoleh.
"Winona!" Suara Adrian meninggi.
Gadis itu tetap tidak berhenti. Ia tahu kalau ia menatap wajah papanya malam ini, ia takkan sanggup menahan amarah yang selama ini membakar dadanya.
Apalagi ketika pulang ke rumahmu mulai kemesraan yang dilakukan oleh papa dan juga Ratna, mama tiri yang tidak mau dianggapnya.
Winona melangkahkan kakinya menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
Masuk ke dalam kamar, Winona mulai mengunci dirinya.
Tak lama kemudian, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Winona.
"Non, Tuan meminta Nona makan malam di ruang makan," ucapnya lembut.
"Katakan padanya kalau aku sudah makan," jawab Winona datar.
"Tapi, Tuan ingin Nona datang sendiri--"
"Bilang saja aku tidak akan turun," potongnya cepat lalu menutup pintu.
Ia duduk di pinggir ranjang, memeluk lutut, menatap ke arah jendela yang memperlihatkan langit malam.
Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena kecewa yang menumpuk terlalu lama.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Winona merasa benar-benar sendiri.
Tidak ada yang berpihak padanya, bahkan papa yang seharusnya melindunginya justru menjadi orang yang menghancurkan dunia yang ia kenal.
Air mata mengalir perlahan di pipinya, tanpa suara.
Winona tidak tahu harus melawan atau menyerah. Tapi satu hal yang pasti, sejak malam itu, cinta dan kepercayaan kepada ayahnya telah hilang.
Sementara di sebuah rumah kayu, di sebuah desa, seorang Pria muda duduk di teras rumahnya, menatap langit malam dengan bintang yang tidak terlalu banyak.
Sosok wanita paruh baya duduk di sebelahnya, menyajikan sepiring singkong rebus dan teh hangat.
"Ibu tahu kalau kamu agak sulit untuk menerimanya. Tapi, Abi, ini adalah amanat yang dititipkan oleh kakek kamu sebelum meninggal. Ibu juga tidak berdaya," kata wanita itu pada putranya.
Pernikahan putranya segera akan dilangsungkan dan hal ini membuat wanita bernama Lastri itu berharap agar perempuan yang akan menjadi istri putranya bisa menerima kekurangan mereka. Terutama kehidupan mereka yang miskin.
"Bu, selama ini aku belum berniat untuk menikah karena ku tahu tanggung jawabku sebagai seorang laki-laki nanti pasti akan bertambah berat. Ini, aku justru akan menikah dengan perempuan kota yang hidupnya serba mewah dan ada. Apa dia bakalan sanggup hidup dengan sangat sederhana seperti ini?" Sosok pria muda itu adalah Abimanyu, menatap ibunya.
Lastri menepuk pelan pundak putranya itu sambil tersenyum. "Kamu adalah anak laki-laki ibu. Kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan ibu yakin kamu pasti bisa untuk membuat istri kamu bahagia."