Pagi itu, suasana di ruang makan keluarga Adrian begitu hening hingga suara sendok menyentuh piring terdengar amat jelas. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara, tapi tak ada satu pun yang berselera makan.
Ratna duduk di ujung meja, sibuk memotong buah apel dengan gaya lemah lembut seperti biasanya, sementara Mischa sesekali melirik ke arah kakak tirinya yang duduk di seberang sana.
Winona diam. Tatapannya kosong, sendok di tangannya hanya dimainkan tanpa benar-benar menyentuh makanan.
Adrian menghela napas panjang, menatap putrinya yang tampak begitu jauh, seolah dunia mereka sudah terpisah begitu saja.
"Winona," panggilnya pelan.
Tak ada jawaban. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
"Nak, Papa tahu Papa sudah keterlaluan kemarin," ucap Adrian dengan nada pelan dan menyesal. "Papa tidak seharusnya menampar kamu."
Hening.
"Papa benar-benar menyesal," lanjut Adrian. "Papa cuma emosi waktu itu. Papa tahu Papa salah."
Mischa mencoba ikut bicara dengan suara hati-hati. "Kak, Papa sudah minta maaf. Jangan marah terus, ya?"
Winona akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang, tapi dingin bukan amarah, melainkan sebuah kekecewaan yang terlalu sulit untuk diungkapkan.
Adrian menelan ludah.
"Papa cuma ingin semuanya kembali seperti dulu, Nona," katanya pelan.
Winona menatapnya sesaat, lalu tersenyum tipis. "Dulu yang mana, Pa? Waktu Papa masih ingat kalau aku anak Papa, atau setelah Papa punya keluarga baru dan lupa aku masih ada?"
Ratna hampir menjatuhkan sendoknya, tapi Adrian hanya bisa terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
Setelah itu, Winona meletakkan sendoknya perlahan, berdiri, lalu berkata pelan, "Terima kasih sarapannya, Pa."
Winona berjalan pergi tanpa menoleh sedikit pun meninggalkan keluarga dengan 3 anggota yang memang cocok untuk bersama daripada dirinya yang juga harus ikut bergabung.
Udara siang di luar rumah terasa lebih hangat. Winona mengendarai mobil putih kecilnya menuju rumah Cecil, sahabatnya sejak SMA. Cecil sudah menunggunya di taman belakang rumahnya yang asri, duduk santai dengan segelas jus jeruk di tangan.
Begitu melihat Winona datang, Cecil langsung berdiri. "Oh my God, Non! Lihat wajah kamu. Kamu habis menangis lagi?"
Winona berusaha tersenyum, tapi matanya jelas masih sembab. "Biasa."
Cecil mendesah panjang. "Aku tidak habis pikir. Papa kamu tuh kaya, punya segalanya, tapi cara dia mengatur hidup kamu seperti zaman kerajaan saja. Masa dia tega meminta kamu menikah sama petani?"
Winona duduk di kursi taman, menatap kolam kecil di depan mereka. “
"Aku juga tidak mengerti, Cel. Semua ini seperti tidak masuk akal. Aku cuma salah menyetir, itu pun karena Mischa maksa aku anterin Celine malam itu. Sekarang malah aku yang harus tanggung semuanya."
Cecil menatapnya prihatin. "Terus kamu bakal menurut? Kamu bakal menikah sama si siapa namanya tadi? Abimanyu?"
Winona mengangkat bahu. "Sepertinya aku tidak punya pilihan."
Sementara itu, di kantor, Adrian duduk di balik meja kerjanya dengan wajah gelisah. Pikirannya melayang terus ke rumah, ke wajah putrinya yang hancur semalam, dan dingin pagi ini.
Seketarisnya, Pak Bram, yang sudah bekerja bersamanya lebih dari dua puluh tahun, mengetuk pintu pelan. "Pak, maaf ganggu. Saya bawa laporan kontrak dari PT Cakrawala."
Adrian mengangguk tanpa semangat. "Taruh aja di meja, Bram."
Bram menatap bosnya lama, lalu bertanya dengan hati-hati. "Pak, boleh saya bicara jujur?"
Adrian menatapnya heran. "Soal apa?"
"Soal Nona Winona," jawab Bram pelan. "Saya dengar dari pelayan di rumah bapak kalau bapak berniat untuk menikahkan nona Winona, menggantikan nona Mischa?"
Adrian bersandar di kursinya. "Kabar memang cepat sekali."
Bram tersenyum tipis. "Rumah besar, Pak. Pelayan tidak bisa jaga rahasia selamanya." Ia berhenti sebentar, lalu menatap Adrian serius. "Tapi, maaf, Pak. Saya pikir kali ini Bapak benar-benar keterlaluan."
Adrian mengerutkan kening. "Kamu juga menganggap kalau saya keterlaluan?"
"Iya, Pak." Bram menunduk sedikit, tapi suaranya tegas. "Saya kenal Bapak dua puluh tahun. Kalau saya lancang, saya ingin bicara jujur kalau bapak memang berat sebelah. Selalu memprioritaskan nona Mischa dan mengabaikan kebahagiaan nona Winona. Saat ini yang seharusnya menikah dengan laki-laki itu bukan nona Winona, tapi nona Mischa. Sayangnya, bapak membebankan tanggung jawab itu pada nona Winona."
Adrian menatap bawahannya lama. Kata-kata itu menampar batinnya lebih keras dari yang ia sangka.
"Nona Winona itu anak bapak juga," lanjut Bram. "Nona sopan sama semua orang, bahkan sama saya yang cuma karyawan. Tapi selama ini, dia tidak pernah benar-benar mendapatkan kasih sayang dari Bapak. Saya mohon, jangan biarkan keputusan ini membuat Bapak kehilangan dia selamanya."
Adrian menunduk, jemarinya mengetuk meja pelan. Dalam diam, kata-kata Bram menggema di kepalanya.
Benarkah ia sudah sejauh itu?
Sore menjelang malam, Winona akhirnya pulang. Mobil putihnya berhenti di halaman, dan begitu ia melangkah masuk ke rumah, ia berpapasan dengan Adrian di ruang tamu.
"Winona," panggil Adrian pelan.
Gadis itu hanya melewatinya begitu saja tanpa kata, tanpa tatapan. Seolah pria itu hanyalah orang asing.
"Winona," ulang Adrian sedikit lebih keras. "Papa mau bicara."
Winona tetap berjalan, menaiki tangga dengan langkah tenang tanpa menoleh sekali pun.
Ratna yang sedang duduk di sofa pura-pura memijat pelipisnya, tapi sorot matanya menunjukkan kepuasan terselubung.
Malam tiba.
Pelayan mengetuk pintu kamar Winona dengan sopan. "Nona Winona, Bapak memanggil untuk makan malam bersama."
"Bilang aku tidak lapar," jawab Winona dari balik pintu.
Pelayan itu tampak ragu. "Tapi, Non, Bapak ingin bicara secara baik-baik--"
"Bilang saja padanya aku sudah tidur."
Pelayan mengangguk lemah, lalu turun ke bawah dan menyampaikan pesan itu pada Adrian.
Tak lama kemudian, langkah kaki berat terdengar menaiki tangga. Adrian sendiri yang datang, mengetuk pintu kamar putrinya dengan hati-hati.
"Winona," panggilnya pelan. "Papa di sini."
Tak ada jawaban.
"Nak, Papa tahu kamu masih marah. Tapi Papa cuma mau bicara. Tolong buka pintunya."
Sunyi. Hanya suara angin dari ventilasi yang menjawab.
"Papa tahu kalau Papa salah. Tolong buka pintunya, kita perlu bicara," katanya dengan suara pelan.
Masih tak ada jawaban.
Adrian berdiri di depan pintu beberapa saat, menatap kayu itu seolah berharap dinding itu bisa membalasnya. Tapi hening tetap mendominasi. Ia akhirnya menghela napas panjang, dan berjalan perlahan menuruni tangga.
Di balik pintu, Winona duduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding. Ia mendengar setiap kata, setiap nada menyesal dalam suara ayahnya. Tapi rasa sakit di hatinya belum hilang.
Air mata menetes lagi tanpa ia sadari.
"Papa selalu datang terlambat," bisiknya pelan.
Winona menutup matanya, membiarkan keheningan menelan seluruh luka yang belum sembuh itu.