Part 2. Kecewanya Winona

982 Kata
Suara pecahan kaca memecah keheningan sore itu. Winona berdiri di ruang tengah dengan d**a naik turun cepat, napasnya berat, matanya merah penuh amarah. Di hadapannya, Ratna--ibu tirinya--memandangnya dengan ekspresi tenang, padahal senyum sinis di sudut bibirnya tak bisa disembunyikan. "Papa!" seru Winona dengan nada tinggi. "Aku ingin Papa dengar langsung! Aku tidak akan menikah dengan pria desa itu. Terutama karena hasutan wanita ini," tunjuknya pada Ratna. Winon akan melakukan perlawanan lagi meski tahu hal yang dilakukannya sia-sia. Ratna memegang dadanya seolah terkejut. "Astaga, Nona! Jangan bicara begitu. Nanti papa kamu semakin marah. Mama Ratna juga tidak menghasut papa kamu untuk menikahkan kamu dengan Abimanyu." "Tidak?" Winona menatapnya tajam. "Jadi, siapa yang memaksa dan menghasut Papa supaya aku bisa menikah dengan laki-laki yang seharusnya dinikahkan dengan Mischa?" Mischa yang berdiri di samping ibunya langsung melangkah maju, suaranya meninggi. "Kak Winona, kakak tidak sopan bicara seperti itu pada Mama aku." Winona menatap adik tirinya dengan sinis. "Cukup!" Suara berat Adrian memecahkan suasana yang semakin panas. Ratna langsung berbalik, memasang wajah sedih. "Mas, aku hanya ingin membuat Winona tenang. Tapi, ternyata--" Ratna terisak, sambil memegang kepalanya dan tubuhnya hampir oleng membuat ada yang segera mendekatinya. "Ratna, kamu kenapa?" Mischa langsung menangis di sampingnya. "Mama kenapa? Mama pusing?" Winona melangkah maju, menatap pemandangan itu dengan getir. "Dia tidak pingsan, Pa. Lihat tuh, matanya masih melek." Adrian menatap Winona tajam. "Diam, Winona. Jangan bicara seperti itu di depan mamamu!" "Mama?" Winona mendengus getir. "Dia bukan mamaku, Pa! Dia cuma perempuan penggoda, w************n yang--" PLAK! Suara tamparan keras menggema di ruangan itu. Kepala Winona terhempas ke samping, pipinya terasa panas dan perih. Suasana seketika hening. Mischa menjerit kecil, sementara Ratna menatap puas dari balik wajah sedihnya. "Papa." Suara Winona serak, gemetar. "Papa, menampar aku?" Adrian berdiri tegap, wajahnya penuh amarah. "Kamu keterlaluan, Winona. Bagaimana bisa kamu bicara begitu pada wanita yang sudah merawatmu sejak kecil?" Winona menatap papanya dengan mata basah, suaranya bergetar tapi tegas. "Merawatku? Sejak kapan, Pa? Sejak dia sibuk membuatku terlihat buruk di depan Papa? Sejak dia selalu membandingkan aku dengan anak kandungnya sendiri?" "Sudah cukup, Winona!" "Belum cukup, Pa!" serunya keras. "Aku sudah diam selama bertahun-tahun. Aku selalu berusaha jadi anak baik, tapi Papa selalu menganggap aku salah. Papa selalu pilih kasih!" Ratna menangis kecil sambil memeluk Mischa, tapi senyum puas tampak jelas di balik wajah lembutnya. "Mas, aku tidak sanggup dengar Winona bicara seperti ini." "Papa bahkan tidak sadar ya," lanjut Winona, suaranya mulai pecah. "Sejak Mama kandungku meninggal waktu aku umur 3 tahun, aku tidak pernah punya siapa-siapa selain Papa. Tapi, Papa malah sibuk dengan Ratna dan Mischa, sementara aku harus belajar menenangkan diri sendiri tiap malam!" Air mata jatuh di pipinya. Tapi kali ini Winona tidak menyembunyikan perasaannya. "Papa pikir aku tidak melihat bagaimana Papa selalu membela Mischa? Bahkan saat dia salah pun Papa tetap di pihaknya. Papa tidak pernah mendengarkan aku." Adrian terdiam. Tangannya yang tadi terkepal perlahan melemah. "Waktu aku jatuh sakit dan demam dua hari, Papa tidak datang. Tapi waktu Mischa sakit gigi, Papa langsung pulang dari luar kota. Waktu aku ulang tahun, Papa kirim ucapan lewat sekretaris. Tapi, waktu Mischa ulang tahun, Papa buat pesta besar dan panggil wartawan. Aku bukan anak Papa lagi, ya?" Ratna berpura-pura menyeka air matanya. "Nona, jangan bicara seperti itu, Papa kamu sudah berusaha adil." Winona menatap Ratna dengan tatapan tajam. "Adil? Apa kamu tahu arti kata itu? Selama ini yang aku lihat adalah kebahagiaan kalian bukan kebahagiaanku." Mischa menangis lebih keras. "Kakak jahat sekali bicara seperti itu padahal mamaku sudah berusaha untuk bersikap adil agar keluarga kita tetap damai." Winona menatap Mischa dengan tatapan sedih. "Dama dan adil itu hanya untuk kalian saja." Ratna menunduk lagi, pura-pura lemah, lalu bergumam lirih, "Mas, aku pusing lagi." Adrian menatap istrinya. "Ratna, duduk dulu." "Pa!" seru Winona, menahan air matanya. "Dia cuma berpura-pura lagi! Papa nggak lihat apa? Nggak ada yang salah dengan dia." PLAK! Tamparan kedua kali. Lebih keras. Kali ini Winona benar-benar terdiam. Kepalanya menunduk, air matanya jatuh tanpa suara. Adrian berdiri di depannya, wajahnya penuh emosi, tapi di matanya ada sedikit penyesalan yang belum muncul ke permukaan. "Cukup, Winona," katanya pelan namun tegas. "Papa tidak mau dengar lagi. Kamu sudah keterlaluan." Winona mengangkat wajahnya perlahan, menatap papanya dengan mata sembab. "Papa benar-benar sudah berubah." Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan. "Papa tidak tahu betapa hancurnya aku selama ini. Papa tidak tahu bagaimana rasanya hidup di rumah sendiri tapi merasa asing." Adrian menunduk, napasnya berat. "Nona." "Aku tidak meminta banyak, Pa," lanjutnya dengan suara bergetar. "Aku cuma ingin Papa melihatku. Sekali saja. Melihat aku sebagai anak Papa." Suara itu membuat ruangan hening. Adrian menatap putrinya lama, dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ada sesuatu di matanya, sesal yang samar. Wilona melangkah perlahan ke arah tangga. Tapi, sebelum naik, ia berhenti sejenak dan menatap Adrian sekali lagi. "Kalau memang Papa ingin aku menikah dengan Abimanyu supaya semua ini selesai, baik. Aku akan lakukan. Tapi, jangan pernah harap aku kembali ke rumah ini setelah itu. Anggap, Winona tidak pernah ada." Ratna pura-pura menjerit kecil. "Astaga, Nona. Jangan bicara seperti itu." Winona tersenyum getir. "Tenang saja, Ratna. Bukankah itu yang kamu mau? Satu-satunya penghalang antara kamu dan Papa akhirnya pergi dari rumah ini." Winona menatap Mischa sebentar. "Selamat, Mischa. Sekarang kamu anak kesayangan satu-satunya." Tanpa menunggu reaksi mereka, Winona naik tangga perlahan, langkahnya berat tapi mantap. Setiap langkah terasa seperti memotong jarak antara dirinya dan masa lalu. Di bawah, Adrian menatap punggung putrinya yang menghilang di ujung tangga. Ada sesuatu yang menghantam dadanya, rasa bersalah yang selama ini ia tekan mulai muncul ke permukaan. Ratna mendekatinya, menepuk bahunya lembut. "Sudahlah, Mas, nanti juga anakmu sadar sendiri. Dia cuma perlu waktu." Adrian tak menjawab. Pandangannya kosong, masih terarah ke tangga yang kini sepi. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia mulai mempertanyakan apakah keputusan-keputusannya benar. Untuk pertama kalinya, hati kecilnya berbisik pelan bahwa mungkin, ia baru saja kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN