Perjamuan makan malam di kediaman utama keluarga besar Wicaksono telah berlangsung selama satu jam ketika Rania akhirnya tiba. Ia datang sendirian menggunakan taksi online, melangkah masuk ke dalam aula megah itu dengan gaun biru tua lamanya yang sederhana.
Di tengah kepungan gaun-gaun couture ratusan juta rupiah milik para sosialita, penampilan Rania tampak teramat mencolok karena kesederhanaannya—namun potongan tubuhnya yang anggun dan dagunya yang tegak membuat wanita itu tetap memancarkan kelas yang berbeda.
Di sudut aula dekat piano besar, Raka berdiri dikelilingi oleh tiga taipan properti internasional. Meskipun bibirnya bergerak menanggapi obrolan bisnis, sorot mata elang pria itu langsung bergeser tajam begitu menangkap bayangan Rania di ambang pintu. Garis wajah tegasnya mengeras samar. Ada rasa sesak yang kembali memukul dadaa Raka saat melihat istrinya benar-benar datang dengan gaun lama itu, menegaskan penolakan mutlak atas eksistensinya sebagai suami.
Di sisi lain ruangan, Hanny tampak begitu bersinar. Dengan gaun sutra marunnya yang mewah, ia berdiri di samping Ibu Rima, menggendong Nina yang mulai mengantuk. Dari jauh, siapa pun yang melihat akan mengira Hanny adalah nyonya muda Wicaksono yang sah.
Ibu Rima yang menyadari kedatangan Rania langsung mendengus pelan. Ia menyerahkan gelas sampanyenya pada pelayan, lalu melangkah anggun menghampiri Rania, diikuti oleh Hanny yang memasang wajah cemas yang dibuat-buat.
"Kau sengaja ingin mempermalukan anakku dengan datang terlambat dan memakai pakaian seperti pelayan ini, Rania?" bisik Ibu Rima dengan suara rendah yang sarat akan racun intimidasi begitu mereka berdiri di sudut yang agak sepi.
Rania menundukkan kepalanya sekilas dengan sikap hormat yang teramat patuh. "Selamat malam, Ibu Rima. Saya minta maaf atas keterlambatan saya. Mobil taksi sempat terjebak macet di jalur protokol."
"Taksi?" Ibu Rima menaikkan sebelah alisnya, suaranya naik satu oktav karena terkejut sekaligus jijik. "Menantu Raka Aditya datang ke perjamuan bisnis internasional menggunakan taksi umum? Di mana otakmu, Rania? Kau sengaja ingin membuat media berpikir Raka menelantarkanmu?"
Hanny buru-buru memegang siku Ibu Rima, memasang wajah polos penuh pembelaan. "Mama, sudah ... jangan marahi Mbak Rania. Tadi Mas Raka sudah mengajak Mbak Rania berangkat bersama kami, tapi Mbak Rania sendiri yang menolak dan bilang ingin menyusul. Hanny takut Mbak Rania malah merasa tidak nyaman kalau dipaksa..."
Trik Hanny kembali bekerja dengan sangat presisi. Di depan Ibu Rima, ia melempar umpan bahwa Rania adalah istri pembangkang yang tidak tahu diuntung.
Namun, sebelum Rima sempat membalas, sesosok pria asing dengan setelan jas abu-abu mahal melangkah mendekati perimeter mereka. Pria itu bertubuh tegap, berwajah tampan dengan senyuman ramah yang langsung membeku begitu tatapan matanya jatuh pada wajah pucat Rania.
"Rania? Kau. .. Rania Ayu Putri?" tanya pria itu, suaranya sarat akan keterkejutan yang masif.
Rania menoleh, dan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh hari ini, sepasang mata sembap yang biasanya kosong tanpa nyawa itu melebar samar. "Adrian...?"
Adrian adalah mantan kekasih Rania di masa kuliah, pria yang terpaksa berpisah dengannya setahun lalu karena kebangkrutan perusahaan Ayah Surya dan keputusan mendadak Rania untuk menghilang dari lingkaran pertemanan sebelum akhirnya terjebak dalam pernikahan transaksi dengan Raka.
"Ya Tuhan, Rania! Ini benar-benar kau!" Adrian melangkah maju satu langkah, matanya menatap gaun biru tua Rania dengan tatapan nanar yang penuh kerinduan sekaligus rasa sakit. "Ke mana saja kau selama ini? Aku mencarimu ke rumah lamamu, ke rumah sakit ... kenapa kau memutus semua kontak?"
Atmosfer di sudut ruangan itu seketika mendingin. Ibu Rima memandang Adrian dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Airlangga? Kau mengenal wanita dari keluarga bangkrut ini?"
Adrian menoleh pada Rima dengan sikap hormat namun tegas. "Ibu Rima, Rania adalah ... dia adalah wanita yang seharusnya aku nikahi jika badai tahun lalu tidak menghancurkan semuanya."
Deg.
Hanny yang berdiri di samping Rima langsung menyembunyikan binar kemenangan yang teramat masif di matanya. Ini adalah amunisi emas yang jatuh dari langit. Mantan kekasih Rania muncul di tengah perjamuan resmi keluarga Wicaksono.
Tepat pada detik itu, sebuah bayangan tubuh yang teramat besar dan tegap mendomiinasi area di belakang Rania. Raka Aditya Wicaksono melangkah masuk ke dalam perimeter obrolan mereka dengan aura domiinan yang seketika membekukan pasokan oksigen di sekitar tempat itu.
Pria berpostur seratus sembilan puluh lima sentimeter itu berdiri tepat di samping Rania, garis rahang kokohnya mengetat hebat hingga urat-urat di lehernya menegang samar.
Sorot mata elang Raka yang tajam dan mematikan langsung terkunci pada Adrian, lalu bergeser menatap Rania yang tampak kaku di tempatnya.
"Ada urusan apa perwakilan dari Airlangga Group mengusik istriku di tengah perjamuan ini?" tanya Raka. Suara baritonnya yang berat dan rendah bergaung penuh penekanan yang teramat menindas, membuat Adrian secara refleks mundur setengah langkah karena terintimidasi oleh intensitas kemarahan pria terkaya di negeri ini.
Adrian mengepalkan jemarinya, mencoba mengumpulkan keberaniannya di depan Raka. "Pak Raka ... saya tidak bermaksud mengusik. Saya hanya terkejut bertemu kembali dengan Rania. Saya ... saya tahu tentang pernikahan transaksi kalian. Rania tidak pantas dijadikan barang tebusan utang di rumah besarmu!"
Mendengar kalimat itu, ego Raka yang setinggi langit meledak hebat di dalam batinnya. Rasa kepemilikan yang masif dan kemarahan yang asing membakar kewarasan pria itu. Tanpa memedulikan tatapan Ibu Rima atau senyum tertahan Hanny, Raka mengulurkan tangannya yang besar, langsung mencengkeram pergelangan tangan Rania dengan cengkeraman yang teramat erat dan posesif.
"Status hukum dan raga Rania adalah milikku, Airlangga," ucap Raka dengan nada suara yang teramat rendah, hampir menyerupai geraman serigala yang sedang menandai teritorinya. "Satu langkah lagi kau menyebut namanya di depanku, aku pastikan seluruh saham perusahaan keluargamu hancur di pasar modal besok pagi."
Raka kemudian menarik tubuh Rania dengan sentakan kaku, memaksanya berjalan beriringan dengannya meninggalkan aula perjamuan menuju area parkir mobil tanpa memedulikan panggilan Ibu Rima.
Di sepanjang koridor menuju lobi luar, Rania hanya pasrah ditarik oleh cengkeraman tangan Raka yang terasa teramat panas di kulitnya. Daada Rania berdenyut aneh, rasa sakit dan keterkejutan karena pertemuan dengan Adrian bercampur aduk dengan intensitas sentuhan fisik Raka yang pertama kali ia rasakan sejak malam pertama pernikahan mereka yang terkunci.
Ia mendongak, menatap profil samping wajah suaminya yang sarat akan amarah dan kecemburuan yang tak mau diakui oleh pria itu sendiri. Seulas senyuman tipis tanpa nyawa kembali terukir di bibir Rania seiring dengan lesung pipinya yang muncul samar untuk mengunci kembali rasa sakitnya.
"Lepaskan tanganku, Mas Raka. Transaksi malam ini ... sepertinya sudah hancur karena kehadiranku," bisik Rania dengan nada suara yang teramat jernih dan dingin, membuat cengkeraman tangan Raka mendadak kaku namun menolak untuk melepaskannya.