Hari keempat puluh pernikahan mereka ditandai dengan undangan makan malam semi-formal di kediaman utama keluarga besar Wicaksono. Ibu Rima sengaja mengadakan perjamuan kecil untuk menyambut kolega bisnis internasional Raka. Sebagai istri sah, Rania tidak memiliki pilihan selain ikut serta, karena ketidakhadirannya hanya akan memicu kecurigaan dari pihak luar mengenai validitas pernikahan transaksi ini.
Dua jam sebelum keberangkatan, Rania baru saja selesai membersihkan diri. Ia berdiri di depan lemari pakaian kamarnya yang luas, menatap satu-satunya gaun malam sederhana berwarna biru tua yang ia bawa dari rumah lamanya. Gaun itu sopan, namun potongannya sudah terbilang usang untuk standar perjamuan kelas atas keluarga Wicaksono.
Tepat saat ia hendak meraih gaun itu, pintu penghubung kamar mereka diketuk dengan tiga ketukan tegas yang konstan. Rania berjalan mendekat dan membuka selot kuncinya.
Cklek.
Raka sudah berdiri di sana, menjulang dengan setelan tuksedo hitamnya yang teramat gagah. Di tangan kanannya, pria itu membawa sebuah kotak besar berpita perak. Tanpa menunggu dipersilakan, Raka melangkah masuk, meletakkan kotak itu di atas ranjang Rania.
"Pakai ini malam ini," ucap Raka dengan suara baritonnya yang berat, terdengar rendah namun sarat akan nada perintah yang tidak menerima bantahan. "Ibuku mengundang kolega penting. Aku tidak ingin kau datang dengan pakaian yang membuat orang mempertanyakan kemampuanku membiayai kebutuhan istrinya."
Rania menatap kotak itu datar, lalu beralih menatap suaminya dengan sepasang mata yang jernih dan kosong dari riak emosi.
"Saya tidak butuh gaun baru, Mas Raka," jawab Rania. Suaranya terdengar sangat tenang, teratur, dan berjarak dengan kata saya yang kembali menegaskan dinding pemisah di antara mereka. "Gaun biru tua saya yang di lemari masih sangat layak untuk sekadar duduk di sudut ruangan. Lagipula, bukankah orang-orang hanya perlu tahu kalau saya hadir secara fisik sebagai penjamin dokumen transaksimu?"
Rahang Raka mengetat samar mendengar panggilan formal yang diucapkan dengan nada terlampau datar dan rasional itu. Ego tingginya kembali terusik melihat bagaimana Rania dengan begitu mudah menolak pemberiannya seolah benda itu tidak memiliki nilai apa pun.
"Rania, aku tidak sedang menawarkannya padamu. Ini perintah," tekan Raka dengan sorot mata elang yang menggelap, melangkah satu tapak lebih dekat hingga atmosfer di antara mereka mendadak menyempit. "Buka kotaknya dan pakai. Jangan memancing kemarahanku sebelum kita sampai di rumah Ibu."
Rania menatap lurus ke dalam manik mata tajam suaminya selama tiga detik—batasan waktu yang biasa Raka berikan sebelum memalingkan wajah. Namun malam ini, Raka tidak memalingkan wajahnya, pria itu justru terpaku menatap ketenangan mati rasa di wajah istrinya.
Seulas senyuman tipis tanpa nyawa terukir di bibir Rania hingga lesung pipinya muncul samar. "Baik, Mas Raka. Jika ini bagian dari penampilan transaksi yang harus saya tampilkan di depan kolegamu, saya akan memakainya. Kamu bisa keluar sekarang."
Mendengar kalimat pengusiran yang teramat sopan namun dingin itu, daada Raka berdenyut aneh. Rasa sesak yang asing kembali merayap di lubuk hatinya. Pria itu membalikkan tubuhnya dengan gerakan kaku, melangkah keluar kembali ke kamarnya sendiri dan membiarkan pintu penghubung itu tertutup dengan bunyi klik yang solid.
Satu jam kemudian, Rania turun ke lantai bawah mengenakan gaun dari Raka—sebuah gaun sutra berwarna marun yang teramat pas melekat di tubuh rampingnya, membuat keanggunan alaminya terpancar dengan begitu memukau. Namun, begitu ia sampai di anak tangga terakhir, langkah kaki Rania mendadak terkunci.
Di ruang tengah, Hanny sudah bersiap dengan gaun malam yang memiliki warna dan potongan yang hampir seratus persen mirip dengan gaun yang dikenakan Rania. Hanny tampak begitu anggun, menggandeng tangan Nina yang mengenakan gaun anak-anak berwarna senada.
Begitu Hanny menoleh dan melihat Rania, wajah manisnya langsung dihiasi ekspresi syok dan panik yang dibuat-buat. Cangkir teh di tangannya hampir saja terlepas dari jemarinya.
"Mbak Rania ... ya ampun," ucap Hanny dengan suara lembutnya yang mendadak bergetar lirih, matanya berkaca-kaca menatap Rania lalu beralih pada Raka yang baru saja turun di belakang istrinya. "Mas Raka ... maafkan Hanny. Hanny tidak tahu kalau gaun yang Mas Raka belikan untuk Mbak Rania warnanya sama persis dengan gaun yang Hanny pesan minggu lalu. Hanny ... Hanny akan ganti baju sekarang saja, biar Mbak Rania tidak dikira menyamai Hanny..."
Trik Hanny teramat rapi. Ia memosisikan dirinya sebagai korban yang tidak sengaja, sekaligus secara terselubung menanamkan narasi bahwa Rania-lah yang menjadi peniru di rumah ini.
Nina yang melihat tantenya hampir menangis langsung memeluk pinggang Hanny dengan erat, lalu mendongak menatap Rania dengan pandangan mata anak-anak yang penuh permusuhan. "Bunda Hanny jangan ganti baju! Yang boleh pakai gaun marun cuma Bunda Hanny dan Nina! Tante Rania kan orang asing, Tante Rania saja yang ganti baju lain!"
Kalimat polos dari bocah enam tahun itu menghantam keheningan ruang tengah bagai hantaman gada yang teramat telak. Orang asing. Sebutan itu keluar dengan begitu wajar dari bibir putri kandung Raka untuk istri sah ayahnya.
Raka tersentak di tempatnya berdiri. Sorot mata elangnya bergerak kaku, menatap bergantian antara Hanny yang menunduk terisak dan Rania yang berdiri mematung di dekat tangga. Dadaa Raka bergemuruh oleh rasa bersalah yang teramat pekat melihat bagaimana istrinya disudutkan secara verbal di depan matanya sendiri. Ia ingin bersuara, ingin menegur Nina, namun egonya yang terikat oleh memori masa lalu Marsha lewat Hanny mendadak membuatnya ragu.
Hanny yang menyadari keraguan Raka segera melirik Rania melalui sudut matanya, menanti runtuhnya pertahanan sang istri sah yang ia harapkan akan menangis atau berlari kembali ke kamar atas.
Namun, Rania hanya berdiri diam. Dadaa Rania memang berdenyut ngilu mendengar sebutan dari Nina, sebuah luka baru tertoreh di batinnya. Namun, wajah pucatnya tetap datar, bersih dari air mata maupun amarah. Dinding es yang ia bangun selama tiga puluh hari ini telah mengunci seluruh ekspresi wajahnya dengan sempurna.
Ia menatap Nina perlahan, lalu beralih menatap Raka. "Kau tidak perlu menangis atau mengganti gaunmu, Hanny. Gaun ini memang tidak pernah cocok untukku sejak awal," ucap Rania dengan nada suara yang teramat jernih, tenang, dan kosong dari emosi terpendam.
Rania kemudian melepas mantel beludru yang sempat ia kenakan, meletakkannya begitu saja di atas sandaran kursi dekat tangga. Ia menatap Raka lurus-lurus. "Mas Raka, saya permisi ke atas untuk mengganti pakaian dengan gaun biru tua saya yang lama. Kalian bisa berangkat lebih dulu bersama Nina dan Hanny agar tidak terlambat menghadiri perjamuan Ibu Rima. Penampilan transaksi ini ... bisa saya lakukan dengan cara saya sendiri."
Rania membalikkan tubuhnya, menaiki anak tangga satu demi satu dengan kepala tegak tanpa sekali pun menoleh ke belakang, membiarkan ruang bawah yang membeku dalam keheningan yang teramat menyakitkan bagi batin Raka yang menyaksikannya.