Tiga minggu berlalu sejak kepindahan Ayah Surya ke paviliun rehabilitasi, dan rumah mewah keluarga Wicaksono kembali ke ritme semula—sunyi, dingin, dan penuh sekat yang tak kasatmata. Rania semakin mahir memosisikan dirinya sebagai bayangan. Ia tidak lagi mencoba masuk ke ruang tengah saat ada Hanny dan Nina, juga tidak pernah lagi berdiri di dekat meja makan jika Raka ada di sana.
Hari itu, hari kedua puluhl empat pernikahan mereka, Rania pulang lebih lambat dari biasanya karena harus membantu administrasi tebusan obat luar yang tidak ditanggung oleh asuransi utama perusahaan Raka. Jam dinding di dapur bersih sudah menunjukkan pukul delapan malam. Perutnya terasa perih karena ia melewatkan makan siang.
Alih-alih meminta pelayan menyiapkan makanan di meja utama, Rania memilih berjalan ke pojok dapur bersih, dekat area pantri tempat para pelayan biasa menaruh sisa potongan buah. Di sana ada sebuah meja kayu kecil berkursi satu yang biasa digunakan Bi Sumi untuk mengupas sayur. Di atas meja kecil itulah Rania meletakkan sepiring nasi dengan lauk tempe orek dan sayur bening sisa siang tadi yang ia hangatkan sendiri.
Rania duduk dengan tenang di sudut yang remang-remang itu, menyuap makanannya perlahan. Baginya, sudut dapur yang sempit ini jauh lebih aman dan nyaman daripada kursi ujung meja makan utama yang selalu membuatnya merasa seperti terdakwa yang sedang diadili.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki tegap berbobot berat terdengar memasuki area dapur bersih. Rania tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Bau harum maskulin yang khas bercampur aroma sabun setelah mandi langsung memenuhi ruangan.
Raka Aditya Wicaksono berdiri di ambang pintu pantri, tubuh kekarnya yang setinggi seratus sembilan puluh lima sentimeter itu tampak terlalu besar untuk ruangan dapur yang bersih. Pria itu hanya mengenakan kaus rumahan hitam polos dan celana kain santai.
Raka berniat mengambil segelas air putih, namun langkahnya mendadak terkunci total begitu melihat sosok istrinya. Alis tebal pria itu bertaut rapat, wajah tegasnya seketika mengeras samar melihat Rania—istri sahnya, menantu dari keluarga besar Wicaksono—sedang duduk di atas kursi kayu murah di sudut dapur, menyantap makanan sisa di bawah temaram lampu pantri.
"Apa yang kau lakukan di sini, Rania?" tanya Raka. Suara baritonnya yang berat dan rendah menggema di langit-langit dapur, sarat akan nada tidak suka dan ego yang terusik hebat.
Rania menghentikan sendoknya sejenak. Ia mendongak, menatap suaminya dengan sepasang mata yang tenang dan jernih, tanpa ada riak terkejut atau rasa bersalah.
"Saya sedang makan malam, Mas Raka," jawab Rania. Suaranya terdengar sangat teratur dan datar, tanpa emosi terpendam sedikit pun.
Raka melangkah mendekati meja kecil itu, auranya yang dominan seketika membuat sudut dapur terasa menyempit dan mencekik. "Rumah ini memiliki meja makan utama yang luas di luar. Jika para pelayan atau Ibuku melihatmu makan di sudut sempit seperti ini dengan lauk sisa, mereka akan berpikir aku menyiksamu atau tidak memberimu nafkah yang layak!"
Ego Raka yang setinggi langit kembali terusik. Pria itu terbiasa melihat semua hal di sekitarnya tertata sempurna dan megah. Melihat Rania yang dengan sukarela menurunkan derajatnya sendiri di sudut dapur seolah menjadi sindiran telak bagi kekuasaannya sebagai kepala rumah tangga.
Rania meletakkan sendoknya perlahan di atas piring, mengeluarkan bunyi ketukan kecil yang konstan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata elang suaminya yang sedang berkilat kesal. Seulas senyuman tipis yang sangat manis namun terasa kosong terukir di wajah pucatnya hingga sepasang lesung pipinya muncul samar.
"Meja makan di luar terlalu luas untuk saya yang hanya berstatus menumpang hidup karena utang, Mas Raka," bisik Rania dengan nada suara yang teramat tenang namun terasa begitu tajam menusuk batin Raka. "Lagi pula, di meja utama itu sudah ada tempat yang pas untukmu, Nina, dan Hanny. Kursi di sana terlalu megah untuk seorang boneka transaksi seperti saya. Di sudut dapur ini, saya tidak perlu merusak pemandangan keluarga kecilmu itu."
Rahang Raka mengetat hebat mendengar untaian kalimat yang keluar dari bibir istrinya. Dadanya bergemuruh oleh rasa sesak yang asing dan mendalam. Kalimat Rania tidak mengandung makian atau air mata, namun ketenangan mati rasa dari wanita itu justru terasa lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan keras di wajahnya.
Raka ingin marah, ingin memerintahkan wanita ini berdiri dan pindah ke depan, namun lidahnya mendadak kelu karena ia tahu, setiap bait kalimat Rania adalah kebenaran yang ia ciptakan sendiri sejak malam pertama mereka.
Belum sempat Raka menguasai kembali emosinya, suara langkah kaki kecil yang terburu-buru terdengar mendekati dapur, disusul oleh suara Hanny yang berjalan di belakangnya. Nina berlari masuk sambil memegangi sebuah boneka barbie yang salah satu lengannya terlepas.
"Papa! Lihat, tangan boneka Nina copot lagi..." tangis bocah enam tahun itu, langsung menghambur memeluk kaki Raka tanpa memedulikan keberadaan Rania di sudut remang.
Hanny melangkah masuk dengan gaun tidurnya yang anggun, wajah manisnya langsung dihiasi ekspresi cemas yang dibuat-buat begitu melihat Raka yang sedang berdiri tegang di dekat Rania. Hanny dengan cekatan langsung mengambil boneka itu dari tangan Nina, lalu merapatkan tubuhnya pada lengan kekar Raka.
"Mas Raka ... maaf ya, Hanny tadi sedang di kamar mandi jadi tidak tahu kalau Nina lari ke dapur cari Papanya," ucap Hanny dengan suara lembutnya yang manja, matanya melirik sekilas ke arah piring Rania di meja kecil dengan kilatan kepuasan yang teramat tipis. "Eh, Mbak Rania ... kok makannya di pojokan begitu? Aduh, aku jadi merasa bersalah. Nanti kalau Mama Rima datang lagi dan lihat Mbak Rania seperti ini, aku pasti dikira tidak becus melayani Mbak sebagai istri sah di rumah ini."
Kalimat Hanny kembali dibungkus dengan kedok rasa bersalah yang polos, namun secara terselubung sedang menegaskan kembali bahwa posisi Rania di rumah ini memang tersisih secara sosial.
Dulu, di minggu pertama, Rania mungkin akan merasa dadanya sesak dan memilih pergi untuk menyembunyikan air matanya. Namun malam ini, Rania hanya menatap Hanny dengan pandangan mata yang benar-benar datar.
"Kau tidak perlu merasa bersalah, Hanny. Pelayananmu pada Mas Raka dan Nina sudah sangat luar biasa utuh," sahut Rania dengan nada suara yang santai, ringan, dan kosong dari rasa cemburu. Ia kembali bangkit berdiri, membawa piring kotornya menuju wastafel untuk dicuci sendiri. "Mas Raka, karena makan malam saya sudah selesai, saya permisi kembali ke kamar atas lebih dulu untuk beristirahat. Selamat malam."
Rania mencuci piringnya dengan gerakan yang teratur, lalu berjalan melewati ketiganya yang berdiri di tengah dapur. Ia melangkah pergi dengan kepala tegak, berjalan menuju anak tangga lantai dua tanpa sekali pun menoleh ke belakang lagi.
Raka tidak melepaskan pandangannya dari punggung Rania yang menjauh hingga sosok istrinya menghilang di balik kegelapan koridor tangga. Sorot mata elangnya menggelap, dipenuhi oleh riak penyesalan dan kemarahan yang tertahan di lubuk hatinya.
Ketika Hanny mencoba bersandar lebih dekat di lengannya untuk meminta perhatian tentang boneka Nina, Raka perlahan namun pasti menarik lengannya menjauh dengan gerakan kaku yang dingin, meninggalkan Hanny yang tertegun di tengah dapur bersih dengan wajah yang mendadak pias.