Pagi hari setelah negosiasi paviliun rehabilitasi darurat malam itu, atmosfer di meja makan kediaman Wicaksono terasa begitu kaku. Rania turun dengan pakaian kasualnya, wajahnya tampak lebih segar karena kepastian kondisi ayahnya, meskipun matanya masih menyisakan sedikit lingkaran hitam.
Di ujung meja, Raka sudah duduk tegap dengan kemeja kerja yang lengannya digulung hingga siku. Di hadapan pria itu, sebuah map dokumen kontrak baru mengenai biaya paviliun khusus sayap barat rumah sakit sudah tergeletak rapi.
Tepat saat Rania hendak menarik kursi yang berada agak jauh dari Raka, Hanny melangkah masuk dari arah dapur sambil menuntun Nina yang sudah rapi dengan seragam TK-nya. Hanny mengenakan celemek rajut di atas terusan rumahan yang tampak teramat serasi, membawa semangkuk bubur ayam kesukaan Nina.
"Papa! Lihat, bunda buatkan bubur ayam pakai suwiran cakwe kesukaan Nina!" seru anak perempuan berusia enam tahun itu dengan riang, langsung menghambur ke arah kursi di sebelah Raka.
Raka yang tadinya memasang ekspresi datar dan keras seketika melunakkan tatapan matanya. Ia mengusap puncak kepala putri kecilnya dengan kelembutan seorang ayah yang teramat kontras dengan auranya yang menindas. "Pintar anak Papa. Bilang apa sama Bunda Hanny?"
"Terima kasih, Bunda Hanny cantik!" ucap Nina lantang, lalu mencium pipi Hanny dengan penuh sayang.
Hanny tersenyum manis, membalas kecupan itu sebelum menduduki kursi tepat di sisi lain Raka—posisi yang secara alamiah terlihat seperti seorang istri dan ibu yang sah di rumah itu. Hanny melirik sekilas ke arah Rania yang baru saja duduk di kursi seberang, lalu memasang raut wajah sungkan yang teramat halus.
"Eh, Mbak Rania ... maaf ya, Hanny tadi cuma buatkan porsi untuk Mas Raka dan Nina saja. Soalnya Mbak Rania kan biasanya sarapan di rumah sakit sekalian jaga Ayah Surya," ucap Hanny dengan suara lembut, nada bicaranya sama sekali tidak terdengar seperti sedang menyindir, melainkan murni seperti perhatian seorang adik ipar yang pengertian.
Inilah keahlian Hanny. Selama sebelas hari ini, ia berhasil menjadi orang ketiga yang bahkan tidak pernah terlihat seperti orang ketiga. Perannya teramat rapi, manja, rapuh, dan selalu menempatkan dirinya sebagai pelayan sukarela bagi kenyamanan Raka dan Nina, membuat kehadiran Rania sebagai istri sah justru terlihat seperti benalu yang menumpang hidup.
Rania tidak terkejut, pun tidak merasa terluka. Jiwanya yang sudah mempersiapkan diri untuk skenario terburuk hanya menatap mangkuk kosong di depannya dengan datar. "Tidak apa-apa, Hanny. Aku memang harus segera ke rumah sakit pagi ini."
Rania kemudian beralih menatap Raka, meraih pena yang tergeletak di atas meja. "Di mana bagian yang harus kutandatangani, Mas Raka?"
Raka menghentikan gerakan sendoknya. Sorot mata elangnya menatap tajam ke arah Rania. Ada kilat ketidaksukaan yang masif di mata pria itu melihat betapa ringannya Rania memperlakukan pernikahan mereka sebagai urusan administrasi kantor.
"Tanda tangani di lembar ketiga. Setelah itu, Baskara yang akan mengurus pemindahan ayahmu jam sepuluh pagi ini," jawab Raka, suaranya terdengar berat dan sarat akan penekanan dingin.
Sret. Sret.
Rania membubuhkan tanda tangannya tanpa membaca ulang sebaris kalimat pun, persis seperti robot transaksi yang patuh seperti yang ia katakan semalam. Setelah selesai, ia bangkit berdiri, merapikan tas bahunya.
"Terima kasih atas dana barunya, Mas Raka. Saya permisi dulu," ucap Rania, sengaja menggunakan kata 'saya' yang formal untuk menegaskan kembali jarak di antara mereka.
Namun, baru dua langkah Rania berjalan meninggalkan meja makan, suara pekikan kecil Hanny memecah keheningan.
"Aww! Mas Raka ... pergelangan tanganku..." Hanny mendadak menjatuhkan sendok garpu yang dipegangnya. Wajahnya memucat, dan ia memegangi pergelangan tangan kanannya dengan ekspresi kesakitan yang teramat nyata.
Mendengar erangan itu, Raka seketika bangkit dari kursinya dengan gerakan yang teramat cepat. Kursi makannya bahkan sempat bergeser ke belakang karena dorongan mendadak pria itu. Postur tubuhnya yang setinggi 195 cm langsung condong ke arah Hanny, meraih pergelangan tangan wanita itu dengan raut wajah yang mendadak dipenuhi kepanikan kelas berat.
"Hanny? Ada apa? Sendi tanganmu kambuh lagi?" tanya Raka, suaranya terdengar begitu hangat, cemas, dan penuh proteksi—sebuah nada suara yang belum pernah sekali pun Rania dengar ditujukan untuk dirinya sendiri.
Hanny menunduk, matanya berkaca-kaca menahan sakit. "I-iya, Mas ... sepertinya bekas cedera waktu kecelakaan sama Mbak Marsha dulu agak linu lagi karena semalam Hanny kurang tidur waktu nungguin Mas Raka pulang..."
Raka tanpa ragu sedikit pun langsung menarik Hanny ke dalam pelukannya sekilas, mengusap punggung wanita itu dengan kelembutan yang teramat intens, mengabaikan fakta bahwa ada Rania yang masih berdiri mematung di dekat pintu ruang makan. Bagi Raka, setiap kali Hanny terluka sedikit saja—terutama jika itu berkaitan dengan sisa-sisa kecelakaan masa lalu yang merenggut nyawa Marsha—pria itu akan mengorbankan apa pun, melepaskan segala keangkuhannya demi menjadi pelindung mutlak bagi adik iparnya.
"Papa, Bunda Hanny kenapa?" Nina mulai ikut menangis, memegangi ujung kemeja Raka.
"Bunda tidak apa-apa, Sayang. Papa akan antar Bunda ke ruang tengah dulu," ucap Raka menenangkan putrinya, lalu dengan sigap memapah Hanny keluar dari ruang makan, meninggalkan Rania sendirian di bawah bayang-bayang lampu gantung yang sunyi.
Rania berdiri diam, menyaksikan pemandangan keluarga kecil yang utuh itu berlalu di depan matanya. Daada Rania berdenyut ngilu, sebuah retakan kecil mulai muncul di dinding pertahanannya. Ia menyadari satu hal pahit: di rumah besar ini, ada sebuah ruang hati yang pintunya telah dikunci rapat oleh Raka sejak kematian istri pertamanya, dan Hanny adalah satu-satunya orang yang memegang kunci cadangannya, sementara Rania ... hanyalah orang asing yang dikurung di luar pagar.
Rania menarik napas dalam-dalam, mengunci kembali seluruh emosinya, lalu melangkah keluar menuju lobi depan dengan kepala tegak. Ia tidak tahu, bahwa di balik punggungnya, saat dipapah oleh Raka, Hanny sempat menolehkan kepalanya sedikit ke belakang, menatap kepergian Rania dengan seulas senyuman kemenangan yang teramat tipis di sudut bibirnya.