Rania yang duduk di tepi ranjangnya yang temaram langsung menegakkan tubuh. Meski pintu kayu jati itu tebal dan terkunci rapat dari sisinya, getaran suara Raka di seberang sana yang mendadak meninggi dan sarat akan ketegangan langsung menembus bilah kayu, mengirimkan sinyal yang seketika memicu debar di dadanya.
Tanpa membuang waktu lama, Rania bangkit berdiri dan berjalan cepat mendekati pintu penghubung. Tangannya yang dingin langsung memutar selot besi dengan sekali gerakan.
Klek!
Daun pintu terbuka, menampilkan sosok Raka yang baru saja menurunkan ponsel dari telinganya. Wajah tegas pria berpostur seratus sembilan puluh lima sentimeter itu tampak kaku, dengan sepasang mata elang yang bergerak intens begitu menatap langsung ke dalam manik mata Rania. Tidak ada kepanikan yang meledak-ledak seperti malam itu, melainkan sebuah ketegangan kelas berat yang sarat akan kalkulasi bisnis.
"Ada apa dengan Ayah, Mas Raka?" tanya Rania dengan suara yang jernih, mencoba menahan getar di suaranya.
Raka memasukkan ponselnya ke dalam saku celana bahan, lalu melangkah maju satu tapak hingga tubuh tingginya mendominasi ambang pintu. "Dokter spesialis baru saja melakukan visitasi malam. Ayahmu menunjukkan respons motorik pertamanya sejak koma. Jemari tangan kanannya bergerak saat diberikan rangsangan sensorik."
Mendengar kalimat itu, secercah binar yang sudah lama padam mendadak melompat di sepasang mata sembap Rania. Dadanya bergemuruh hebat oleh rasa lega yang teramat sangat. Namun, sebelum Rania sempat mengembuskan napas syukurnya, suara bariton Raka yang berat kembali terdengar, dingin dan memotong momentum.
"Tapi, dokter menyarankan untuk segera memindahkannya ke paviliun rehabilitasi neurologi khusus di sayap barat. Di sana peralatannya lebih intensif untuk memicu kesadarannya. Dan kau tahu artinya itu, Rania? Biaya per bulannya akan melonjak tiga kali lipat dari biaya ICU saat ini. Baskara membutuhkan tanda tangan kontrak baru dariku esok pagi untuk menyetujui penjaminan dana tersebut."
Rania tertegun. Binar di matanya seketika meredup, digantikan oleh kesadaran pahit yang kembali menghantam batinnya. Nyawa dan kesembuhan ayahnya lagi-lagi dihargai dengan angka-angka masif yang hanya bisa keluar dari tanda tangan pria di hadapannya ini. Dinding es yang sempat retak karena rasa lega, kini kembali membeku dengan sempurna di wajah pucatnya.
"Aku mengerti, Mas Raka," sahut Rania dengan nada suara yang teramat datar, tenang, dan kembali kosong dari emosi. "Bawa saja dokumen kontrak barunya ke meja makan besok pagi. Aku akan menandatangani klausul tambahan apa pun yang kau butuhkan sebagai syarat agar dana perusahaanmu cair. Aku tidak akan memprotes sebaris kalimat pun."
Rahang Raka mengetat mendengar jawaban yang terlampau patuh namun sarat akan jarak itu. Ego tingginya sebagai pria yang memegang kendali penuh merasa terusik hebat. Pria itu melangkah maju satu langkah lagi, memangkas jarak di antara mereka hingga hembusan napasnya yang hangat terasa di puncak kepala Rania.
"Aku tidak datang ke kamarmu malam-malam hanya untuk mendengar kata transaksi lagi, Rania," ucap Raka dengan suara rendah yang hampir menyerupai geraman yang tertahan di tenggorokan. Sorot mata elangnya berkilat tajam penuh kekesalan. "Aku yang memegang kendali atas dana itu. Aku bisa saja menolak menandatangani pemindahan paviliun itu jika aku mau. Yang kuinginkan darimu adalah sikap yang semestinya sebagai seorang istri di rumah ini, bukan robot yang hanya tahu cara menandatangani kertas!"
Raka menuntut sebuah riak emosi—ia ingin melihat Rania memohon, menangis, atau menunjukkan kemarahan yang membuktikan bahwa kehadirannya sebagai suami masih memiliki dampak di batin wanita itu.
Namun, Rania tetap bergeming di tempatnya. Ia mendongak, menatap tepat ke dalam manik mata tajam suaminya tanpa ada rasa takut sedikit pun. Seulas senyuman tipis yang sangat manis namun terasa dingin terukir di bibirnya hingga lesung pipinya muncul samar.
"Lalu aku harus bersikap bagaimana, Mas Raka?" bisik Rania dengan nada suara yang teramat jernih namun terasa kosong dari kehidupan. "Apakah aku harus berpura-pura tersenyum bahagia di meja makan saat adik iparmu memamerkan perhiasan mendiang kakakmu? Atau aku harus berpura-pura menangis meminta belas kasihanmu agar kau merasa menjadi pahlawan di rumah ini? Kau sendiri yang membeli raga dan statusku lewat utang Ayah. Jadi, mari kita tetap profesional pada batasan hukum yang kau buat sendiri. Selamat malam."
Tanpa menunggu jawaban dari Raka, Rania melangkah mundur dua langkah, lalu meraih tepi pintu penghubung kayu jati tersebut dan menutupnya perlahan namun pasti tepat di depan wajah suaminya.
Klek.
Selot besi itu kembali berputar dari dalam, mengunci rapat kamar Rania untuk yang kesekian kalinya.
Di seberang bilah kayu jati itu, Raka berdiri mematung dengan napas yang memburu pelan. Tangannya yang besar mengepal kuat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak yang asing kembali menghantam dadanya dengan begitu telak.
Kata-kata Rania yang terlampau logis dan dingin itu justru terasa seperti duri beracun yang tertancap di egonya yang setinggi langit. Pria itu terbiasa ditakuti di dunia bisnis, namun di depan pintu kamar istrinya sendiri, ia merasa benar-benar tidak berdaya untuk meruntuhkan dinding es tersebut.
Raka membalikkan tubuhnya dengan gerakan kaku, melangkah lebar meninggalkan area kamar Rania dengan derap langkah kaki yang berat dan penuh emosi yang belum tuntas.
Ia tidak menyadari, bahwa di ujung koridor lantai dua yang gelap, di balik pilar dekat kamar Nina, sosok Hanny berdiri mematung di sana. Wanita itu rupanya sengaja naik ke lantai atas setelah mendengar suara Raka yang meninggi tadi. Jemari Hanny mencengkeram erat pinggiran pilar kayu, wajah manisnya tampak pias di bawah temaram lampu koridor, dengan sepasang mata bulat yang berkilat penuh kecemasan yang mendalam.
Hanny telah mendengar seluruh percakapan di ambang pintu itu. Dan untuk pertama kalinya selama sepuluh hari ini, Hanny merasakan ancaman yang teramat nyata. Ia tahu betul watak Raka—pria itu tidak pernah mengejar atau menuntut perhatian dari seorang wanita jika pria itu tidak mulai terobsesi.
Sikap Rania yang mati rasa ternyata tidak membuat Raka menjauh, melainkan justru mulai mengikis kewarasan dan egonya secara perlahan namun mematikan.
Hanny menggigit bibir bawahnya hingga memerah, tatapan matanya menatap tajam ke arah pintu kamar Rania yang tertutup rapat. "Kau pikir kau bisa bertahan dengan dinding es itu, Rania?" bisik Hanny dengan suara yang teramat lirih dan sarat akan racun. "Kita lihat saja seberapa kuat kau akan bertahan di rumah ini saat aku mulai menggunakan caraku untuk menyingkirkanmu sepenuhnya."