"Jadi, wanita dari keluarga bangkrut ini yang sekarang menempati kamar menantuku?"
Suara bariton wanita yang sarat akan keangkuhan dan intonasi yang tajam memotong keheningan ruang tengah pada siang hari kesebelas pernikahan mereka. Rania yang baru saja melangkah masuk dari pintu lobi depan setelah menghabiskan waktu berjam-jam di rumah sakit, langsung menghentikan gerakannya.
Di sofa utama, duduk seorang wanita paruh baya dengan setelan blazer sutra berwarna marun yang teramat elegan. Rambutnya disanggul rapi tanpa sehelai pun yang mencuat, dan sepasang matanya yang tajam memiliki bentuk elang yang persis seperti milik Raka. Dialah Rima Wicaksono, ibu kandung Raka, sosok otoriter tertinggi di dalam silsilah keluarga besar mereka yang selama ini jarang menginjakkan kaki di rumah ini sejak kematian Marsha.
Di samping Rima, Hanny duduk dengan sikap tubuh yang teramat santun dan takzim, sementara Nina sedang asyik memakan camilan di pangkuan tantenya. Begitu melihat Rania berdiri di dekat pembatas ruangan dengan pakaian katun sederhana yang tampak sedikit kusut, Hanny buru-buru memasang raut wajah sungkan yang dibuat-buat.
"Eh, Mbak Rania baru pulang..." Hanny bangkit berdiri dengan gerakan yang anggun, menatap Rima dengan pandangan ragu. "Mama ... ini Mbak Rania, istri baru Mas Raka."
Rima tidak bangkit dari duduknya. Ia hanya menatap Rania dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang teramat dingin dan meremehkan. "Istri baru? Raka menikahinya murni karena selembar kertas janji lama mendiang kakeknya, Hanny. Jangan sebut dia istri seolah-olah dia memiliki kualifikasi yang setara dengan mendiang Marsha."
Duri pertama dari sang mertua dihujamkan dengan begitu lugas di tengah ruangan, disaksikan oleh Hanny yang menunduk namun menyembunyikan senyum kemenangan di sudut bibirnya.
Dulu, menghadapi penghakiman frontal dari orang terpandang seperti Rima mungkin akan membuat harga diri Rania hancur berkeping-keping. Namun siang ini, batin Rania yang sudah mati rasa tidak merasakan getaran apa pun. Ia melangkah mendekat dengan tenang, menundukkan kepalanya dengan sikap hormat yang teramat sopan namun berjarak.
"Selamat siang, Ibu Rima," sapa Rania. Suaranya terdengar sangat jernih, datar, dan kosong dari emosi terpendam. "Maaf jika kepulangan saya dari rumah sakit sedikit terlambat dan mengganggu waktu kunjungan Anda."
Rima mengernyitkan alisnya samar, sedikit terkejut melihat Rania yang tidak menunjukkan tanda-tanda terintimidasi atau gemetar di hadapannya. Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dengan ketukan yang sengaja dikeraskan.
"Aku datang ke sini bukan untuk berbasa-basi denganmu," ucap Rima dengan nada suara yang menindas. "Aku datang karena mendengar dari Hanny bahwa kau mulai bertingkah acuh tak acuh di rumah ini. Kau melewatkan makan malam, menolak mengurus Nina, dan membiarkan Hanny melakukan semua tugas rumah tangga. Raka mungkin membayar ratusan juta setiap bulan untuk mempertahankan napas ayahmu di ruang koma itu, tapi bukan berarti kau bisa menjadi pajangan yang tidak berguna di rumah anakku!"
Hanny buru-buru memegang lengan Rima dengan ekspresi panik yang polos. "Mama, sudah... jangan bicara begitu. Hanny tidak apa-apa kok mengurus Mas Raka dan Nina, Hanny kan sudah biasa. Hanny takut Mbak Rania malah makin tertekan..."
"Kau terlalu baik, Hanny. Makanya wanita seperti dia bisa melunjak," potong Rima tegas, matanya kembali menghujam Rania. "Dengar ya, Rania. Jika bukan karena belas kasihan Raka yang melunasi utang masif perusahaan ayahmu, kau mungkin sudah mendekam di jalanan sekarang. Jadi, tahu dirilah. Jangan pasang wajah dingin itu di depan anakku seolah-olah kau yang paling menderita di sini!"
Rania berdiri tegak di hadapan mertuanya. Ia melirik sekilas ke arah Hanny yang sedang menikmati pertunjukan ini di balik topeng polosnya. Beban ekonomi, transaksi medis, dan status menumpang hidup—semua racun itu sudah terlalu sering ia dengar hingga batinnya telah kebal sempurna.
Seulas senyuman tipis yang sangat manis namun terasa dingin terukir di bibir Rania hingga lesung pipinya muncul samar. "Saya tahu persis posisi saya, Ibu Rima. Saya tidak pernah lupa bahwa pernikahan ini adalah murni transaksi finansial untuk menyelamatkan nyawa Ayah saya."
Rima tertegun sejenak melihat ketenangan mati rasa menantunya.
"Karena itu," Rania melanjutkan dengan nada suara yang teramat konstan dan tanpa riak. "Saya tidak akan pernah meminta lebih. Saya tidak akan menyentuh posisi Hanny sebagai pengurus rumah ini, dan saya tidak akan pernah merebut kasih sayang Nina dari mendiang Ibu Marsha. Selama klausul kontrak medis Ayah saya tetap berjalan sesuai kesepakatan dengan Mas Raka, saya akan menjadi boneka transaksi yang paling patuh di rumah ini. Anda tidak perlu cemas."
Tepat saat kata boneka transaksi itu keluar dari bibir Rania, pintu depan terbuka. Raka Aditya Wicaksono melangkah masuk dengan setelan kerja kemeja abu-abu gelapnya. Pria bertubuh tinggi itu sengaja pulang siang ini setelah mendapat kabar dari pelayan bahwa ibunya datang berkunjung.
Namun, langkah kaki tegap Raka mendadak terhenti di ambang batas ruang tengah. Sorot mata elangnya yang tajam langsung menangkap atmosfer tegang yang tercipta di antara ibunya, Hanny, dan Rania yang berdiri tenang di tengah ruangan. Garis wajah tegasnya mengeras seketika.
"Ada apa ini?" tanya Raka dengan suara baritonnya yang berat, rendah, dan bergaung penuh penekanan di seluruh penjuru ruangan.
Rima bangkit berdiri dari duduknya, merapikan blazernya dengan anggun. "Raka, kau pulang di waktu yang pas. Ibu hanya sedang mengingatkan istri transaksimu ini tentang tata krama dan posisinya di rumah ini. Dia baru saja dengan lancang menyebut dirinya sendiri sebagai boneka di depan Ibu."
Raka melangkah mendekat, auranya yang domiinan seketika mengintimidasi ruangan. Tatapan matanya tidak beralih dari sosok Rania yang berdiri tegak dengan pandangan kosong. d**a Raka berdenyut aneh, ada rasa sesak yang asing dan kekesalan yang mendalam merayap di lubuk hatinya saat mendengar kata-kata itu diulangi oleh ibunya.
Otoritas pria itu sebagai pemimpin rumah tangga merasa terusik hebat karena Rania dengan begitu santai menelanjangii hubungan pernikahan mereka di depan orang lain.
"Rania, masuk ke kamarmu sekarang," perintah Raka dengan nada suara yang teramat rendah, hampir seperti geraman yang tertahan di tenggorokan.
Rania memandang Raka lurus-lurus, tidak ada riak takut atau kecewa di matanya. Ia mengangguk hormat sekilas kepada Rima dan Raka bergantian dengan sikap yang teramat sopan namun berjarak. "Baik, Mas Raka. Saya permisi ke atas dulu untuk merapikan pakaian."
Rania membalikkan tubuhnya dan menaiki anak tangga satu demi satu dengan kepala tegak tanpa sekali pun menoleh ke belakang, membiarkan keheningan yang mencekik kembali menguasai lantai bawah.
Malam harinya, rumah mewah itu kembali diselimuti kegelapan yang sunyi setelah kepulangan Rima. Rania selesai membersihkan diri dan duduk di tepi ranjangnya yang luas. Tepat pukul sepuluh malam, suara langkah kaki berat Raka terdengar mendekati pintu penghubung kayu jati yang memisahkan kamar mereka.
Pintu itu masih terkunci rapat dari sisi Rania sejak hari keenam.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan tegas dan penuh penekanan terdengar dari bilah kayu. Raka berdiri di kamarnya, memegang knop pintu yang dingin dengan rahang yang mengeras samar.
"Rania, buka pintunya," ucap Raka dengan nada perintah yang menindas di balik pintu. "Aku ingin bicara tentang apa yang kau katakan pada Ibuku siang tadi."
Rania tetap duduk diam di tepi ranjangnya yang temaram. Ia sama sekali tidak berniat bangkit atau mendekati pintu penghubung tersebut. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Mas Raka. Apa yang kukatakan pada Ibu Rima adalah kebenaran mutlak dari pernikahan kita. Aku hanya memperjelas batasan agar tidak ada ekspektasi yang salah dari keluargamu."
Hening menjalar cukup lama di seberang bilah kayu jati. Raka mengepalkan jemarinya kuat-kuat di gagang pintu, merasakan egonya yang setinggi langit mendadak dihempaskan oleh ketenangan mati rasa istrinya.
Pria itu terbiasa memegang kendali atas segala hal, namun malam ini, suara Rania dari balik pintu yang terkunci terdengar begitu jauh, seolah wanita itu telah berpindah ke dunia lain yang tidak akan pernah bisa ia gapai lagi.
Tepat saat Raka hendak menyahut dengan nada yang lebih keras, ponsel di saku kemejanya mendadak bergetar hebat. Raka menarik ponselnya dan melihat nama dokter spesialis yang merawat Ayah Surya tertera di layar. Dengan kening berkerut, ia menggeser tombol hijau.
"Halo, Dokter. Bagaimana kondisi Bapak Surya?" tanya Raka dengan suara baritonnya yang berat.
Suara dokter di seberang sana terdengar panik dan terburu-buru, mengucapkan kalimat yang seketika membuat seluruh tubuh Raka membeku di depan pintu kamar istrinya.
"Selamat malam, Pak Raka ... Mohon maaf mengganggu malam-malam. Kami baru saja melakukan pengecekan berkala, dan ... mesin penyokong hidup Bapak Surya mendadak mengalami malafungsi sistem, Pak! Detak jantung beliau tidak stabil dan pasokan oksigennya menurun drastis. Kami butuh persetujuan Anda sekarang juga untuk melakukan tindakan operasi darurat yang berisiko tinggi!"