Bab 11

1235 Kata
Pagi di hari kesepuluh pernikahan mereka berganti dengan atmosfer yang jauh lebih berat dari hari-hari sebelumnya. Rania Ayu Putri tidak pulang ke rumah mewah keluarga Wicaksono hingga fajar menyingsing. Ia menghabiskan sisa malam dengan duduk membisu di atas kursi besi koridor rumah sakit, menatap bayangan tubuh ayahnya melalui dinding kaca—tubuh ringkih yang kini bernapas dan bertahan hidup sepenuhnya berkat bunyi ritmis mesin penyokong hidup yang disewa dengan uang suaminya. Baru pada pukul tujuh pagi, setelah memastikan perawat selesai mengganti cairan infus dan memosisikan tubuh ayahnya dengan nyaman, Rania melangkah masuk kembali ke kediaman Wicaksono. Langkah kakinya terdengar pelan dan teratur di atas lantai koridor depan. Tubuhnya teramat lelah, matanya menyiratkan kurang tidur yang akut, namun ekspresi wajahnya benar-benar datar bagai permukaan air yang membeku di tengah musim dingin. Ketika ia berjalan melewati ruang tengah menuju undakan tangga, suasana rumah tampak sunyi. Raka belum turun dari lantai atas. Namun, tepat di dekat pilar pembatas yang menghubungkan ruang tengah dan area tangga, sosok Hanny sudah berdiri di sana. Wanita itu mengenakan gaun rumah berwarna pastel yang anggun, tangannya memegang sebuah cangkir teh hangat. Begitu melihat Rania melangkah masuk dengan jaket tebal yang masih tersampir lesu di bahunya, senyum manis yang biasa Hanny pamerkan di depan Raka seketika lenyap dari wajahnya. Sorot mata bulat yang biasanya tampak polos itu kini meredup, berganti dengan kilatan dingin yang sarat akan permusuhan terselubung. Hanny melangkah maju dua tapak, sengaja menghalangi jalur Rania menuju anak tangga pertama. "Mbak Rania baru pulang?" tanya Hanny dengan suara yang sengaja direndahkan, selembut sutra namun memiliki ketajaman yang kentara. "Luar biasa ya, semalaman berada di rumah sakit demi Ayah Surya. Tapi ... Mbak tidak lupa kan kalau malam tadi Mas Raka terpaksa mengabaikan Nina yang menangis di rumah hanya untuk mengantarmu?" Rania menghentikan langkah kakinya. Ia menatap Hanny lurus-lurus, tidak ada riak terkejut atau panik di wajah pucatnya. "Mas Raka pulang tidak lama setelah kami sampai di sana, Hanny. Kau sendiri yang menjemputnya." Hanny tertawa kecil, suara tawa yang sangat lirih namun sarat akan cemoohan yang meremehkan. Ia melangkah lebih dekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu lengan. "Memang. Mas Raka pasti akan pulang ke sini, karena rumah ini, Nina, dan semua ingatan tentang Mbak Marsha adalah prioritas utamanya. Mas Raka pergi semalam hanya karena bentuk tanggung jawab dan rasa kasihan melihatmu yang histeris." Hanny menjeda kalimatnya sengaja mengamati ekspresi Rania, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin menindas. "Mbak harus sadar diri. Kondisi Ayah Surya yang sekarang koma dan harus dipasang alat penyokong hidup itu ... biayanya ratusan juta setiap bulannya. Dan semua uang itu keluar dari rekening Mas Raka. Secara tidak langsung, Mbak Rania sekarang sudah menjadi beban finansial yang teramat besar di rumah ini. Jadi, tolong jangan bertingkah seolah-olah Mbak memiliki hak untuk membuat Mas Raka cemas atau repot." Duri-duri itu dihujamkan Hanny dengan begitu rapi, langsung menyasar pada titik terlemah Rania, harga dirinya sebagai seorang anak yang tidak berdaya secara ekonomi. Hanny ingin melihat Rania menunduk sedih, meremas jemarinya, atau menunjukkan kilatan amarah yang bisa ia laporkan pada Raka nanti sebagai tindakan tidak sopan. Namun, Hanny salah besar. Pertahanan batin Rania yang baru telah membeku dengan sempurna setelah badai semalam. Rania hanya menatap wajah cantik di hadapannya dengan pandangan mata yang benar-benar flat, kosong tanpa nyawa. "Kau benar, Hanny," sahut Rania dengan nada suara yang teramat jernih, tenang, dan tanpa emosi sedikit pun. "Biaya medis Ayahku memang teramat mahal, dan aku tidak memiliki sepeser pun uang untuk membayarnya jika bukan karena kemurahan hati Mas Raka lewat pernikahan transaksi ini. Aku tahu persis posisiku di rumah ini tidak lebih dari sekadar beban ekonomi yang sedang menumpang hidup." Hanny terpaku sejenak, matanya berkedip tidak percaya mendengar pengakuan Rania yang begitu blak-blakan tanpa ada pembelaan diri. "Jadi," Rania melanjutkan kalimatnya sembari melangkah maju satu tapak, membuat Hanny secara refleks mundur selangkah karena terintimidasi oleh ketenangan yang mematikan itu. "Kau tidak perlu repot-repot mengingatkanku setiap hari. Aku akan menjadi istri transaksi yang paling patuh. Aku tidak akan menyentuh barang-barang milik mendiang kakakmu, aku tidak akan mendekati Nina, dan aku tidak akan pernah mengusik teritorimu bersama Raka di rumah ini. Cukup pastikan saja tagihan rumah sakit Ayahku terbayar lancar, maka aku akan memainkan peran boneka ini dengan sangat baik." Mendengar jawaban yang terlampau santai dan mati rasa itu, rahang Hanny mengencang kesal. Duri ucapannya yang biasa sangat ampuh untuk menyakiti batin Rania kini terasa tumpul, memantul begitu saja pada dinding es tak kasatmata yang baru dibangun oleh sang istri sah. Belum sempat Hanny membalas kalimat Rania, suara langkah kaki tegap yang sangat berat dan konstan terdengar menuruni anak tangga dari arah lantai atas. Raka Aditya Wicaksono muncul dengan setelan kerja kemeja hitam formal yang sempurna, membawa atmosfer dominan yang seketika membekukan ruangan di sekitarnya. Pria bertubuh kokoh itu langsung menghentikan langkahnya di undakan tangga terakhir begitu menangkap keberadaan kedua wanita itu yang berdiri berdekatan. Hanny dengan kecepatan luar biasa langsung mengubah ekspresi wajahnya. Kilatan dingin di matanya lenyap dalam sekejap, berganti dengan raut wajah panik yang tampak sangat polos dan penuh simpati. "Mbak Rania ... Hanny tidak bermaksud membuat Mbak tersinggung," ucap Hanny dengan suara yang agak dikeraskan agar terdengar oleh Raka, jemarinya tampak memegang cangkir tehnya dengan gemetar yang dibuat-buat. "Hanny hanya menyarankan agar Mbak Rania juga menjaga kesehatan dan tidak terlalu memikirkan biaya rumah sakit, karena Mas Raka pasti akan bertanggung jawab..." Raka melangkah mendekat, sorot mata elangnya yang tajam dan dingin langsung terkunci pada sosok Rania yang masih mengenakan jaket tebal dari semalam. Garis wajah tegasnya tampak kaku. "Kau baru kembali dari rumah sakit?" tanya Raka dengan suara baritonnya yang berat dan rendah, menuntut penjelasan langsung dari istrinya. Rania berbalik perlahan menghadap suaminya. Seulas senyuman tipis terukir di wajah pucatnya hingga lesung pipinya muncul samar—sebuah senyuman formal yang sangat manis namun terasa kosong, jenis senyuman yang hanya bergerak di permukaan bibir tanpa sedikit pun menyentuh binar di matanya. "Benar, Mas Raka. Aku langsung menjaga Ayah semalam setelah kau dan Hanny pulang," jawab Rania. Suaranya terdengar sangat tenang dan diatur tanpa melibatkan emosi. "Aku pulang sebentar hanya untuk mengambil beberapa pakaian ganti dan dokumen riwayat medis Ayah yang tertinggal di kamar atas. Setelah ini, aku akan langsung kembali ke rumah sakit agar tidak mengganggu ketenangan di rumah ini." Sikap Rania yang memperlakukannya tak lebih dari sekadar atasan bisnis yang sedang memberikan laporan formal entah kenapa membuat dadaa Raka berdenyut aneh. Ada rasa tidak nyaman yang mendalam mulai merayap di lubuk hatinya. Otoritas tinggi yang biasa ia miliki di rumah ini seolah tidak memiliki kekuatan apa pun di hadapan ketenangan mati rasa istrinya. "Rania, kau bisa meminta pelayan untuk mengambil pakaianmu. Tidak perlu bertingkah seolah-olah kau diasingkan dari rumah ini," ucap Raka dengan nada perintah yang menindas, mencoba menegakkan kembali kendalinya yang mulai goyah. "Aku tidak merasa diasingkan, Mas Raka. Aku hanya sedang menjalankan bagianku dari transaksi kita," balas Rania dengan nada suara yang teramat konstan dan datar. Ia mengangguk hormat sekilas kepada Raka, lalu berjalan melewati Hanny yang masih mematung, menaiki anak tangga satu demi satu menuju lantai dua tanpa sekali pun menoleh ke belakang lagi. Raka tetap berdiri diam di tempatnya, menatap lurus ke arah tangga yang kini kosong. Pria itu mengepalkan jemarinya kuat-kuat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih, merasakan kekesalan yang asing mulai membakar batinnya sendiri. Di sebelahnya, Hanny mencoba meraih lengan Raka dengan manja, namun untuk pertama kalinya pagi itu, Raka menarik lengannya menjauh dengan gerakan kaku, meninggalkan Hanny yang terkesiap dengan wajah pias di bawah tangga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN