Bab 10

1212 Kata
Dunia Rania Ayu Putri seolah runtuh berantakan bahkan sebelum jemarinya sempat menyentuh permukaan selot besi di hadapannya. Kalimat Raka yang bergaung dari seberang bilah kayu jati itu bagai hantaman gada tak kasatmata yang seketika menghentikan aliran darah di sekujur tubuhnya. Seluruh persendian Rania mendadak lemas, kehilangan daya untuk sekadar menumpu berat badannya sendiri. Dengan jari-jari yang membeku dan gemetar hebat, ia memutar kunci bagian dalam dengan terburu-buru. Cklek! Begitu daun pintu penghubung itu terbuka lebar, sosok tinggi besar Raka Aditya Wicaksono langsung menerobos masuk. Pria bertubuh seratus sembilan puluh lima sentimeter itu tidak lagi menampilkan wajah kaku penuh wibawa seperti biasanya. Wajah tegasnya tampak pias, dan sepasang mata elangnya dipenuhi kilatan kepanikan yang teramat nyata. Tanpa banyak bicara, Raka langsung mencengkeram kedua bahu Rania yang gemetar, mencoba menyalurkan kekuatan yang tidak ia miliki saat ini. "Kita ke rumah sakit sekarang. Baskara sudah menyiapkan mobil di depan," ucap Raka dengan suara bariton yang rendah, cepat, dan bergetar hebat. Rania tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Tenggorokannya terasa tersumbat oleh rasa takut yang luar biasa mencekik. Ia bahkan tidak memedulikan penampilannya yang hanya mengenakan gaun tidur satin tipis dan sandal rumahan. Raka menyambar sebuah mantel tebal dari gantungan baju, menyampirkannya ke bahu Rania, lalu menuntun wanita itu setengah berlari menuruni anak tangga lantai dua menuju lobi depan. Di ruang tengah, Hanny berdiri mematung di dekat sofa dengan wajah yang tak kalah pucat, tampak terkejut melihat Raka yang begitu panik demi urusan Rania. Namun, malam ini Raka sama sekali tidak menoleh ke arah Hanny. Fokusnya terkunci sepenuhnya pada Rania yang berjalan dengan pandangan kosong di sebelahnya. Di dalam mobil mewah yang melaju membelah jalanan malam Jakarta yang basah oleh sisa gerimis, keheningan yang tercipta terasa begitu menindas. Mesin mobil yang senyap berbanding terbalik dengan gemuruh di dalam d**a Rania. Wanita itu duduk kaku di kursi penumpang belakang, meremas kedua jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih dan dingin bagai es. Air matanya belum luruh, tertahan oleh rasa syok yang teramat besar, namun bibirnya tidak berhenti bergerak merapalkan doa tanpa putus untuk keselamatan satu-satunya jangkar hidup yang ia miliki di dunia ini. Raka yang duduk di sebelahnya sesekai melirik melalui sudut matanya. Menyaksikan kerapuhan Rania yang begitu nyata malam ini, ada rasa tidak nyaman yang mendalam merayap di lubuk hati Raka. Selama sembilan hari ini, ia terbiasa melihat Rania yang dingin, abai, dan mati rasa akibat benteng pertahanan yang wanita itu bangun sendiri. Namun melihat Rania yang kini tampak seperti kaca tipis yang siap pecah kapan saja, ego tinggi Raka sebagai pria dominan mendadak terusik oleh rasa bersalah yang asing. "Bertahanlah, Rania. Tim dokter yang menangani ayahmu adalah yang terbaik di negeri ini," ucap Raka, mencoba memecah keheningan dengan nada suara yang berusaha ia buat setenang mungkin, meskipun getaran cemas tidak dapat disembunyikan seluruhnya. Rania tidak menyahut. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Raka. Baginya, suara Raka malam ini terdengar sangat jauh, tertutup oleh dengung kepanikan yang memenuhi kepalanya. Mobil terus dipacu membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, memotong lampu-lampu kota yang tampak buram di mata Rania. Begitu mobil berhenti di lobi darurat rumah sakit, Rania langsung membuka pintu sebelum sopir sempat turun. Ia berlari melewati pintu geser otomatis, mengabaikan hawa dingin pendingin ruangan yang menusuk kulit kakinya. Raka melangkah lebar di belakangnya, siap menjaga jika fisik istrinya mendadak ambruk. Lorong menuju ruang perawatan intensif terasa begitu panjang dan menyeramkan. Di ujung koridor, Baskara sudah berdiri dengan wajah cemas, langsung membukakan jalan menuju dinding kaca ruang ICU. Dari balik dinding kaca yang tebal itu, Rania menyaksikan pemandangan yang paling menakutkan dalam hidupnya. Tiga orang dokter dan beberapa perawat sedang bergerak panik di sekitar ranjang Ayah Surya. Salah seorang dokter sedang melakukan pijatan jantung luar secara konstan pada d**a ringkih pria paruh baya itu. Di sudut lain, sebuah alat pacu jantung elektrik sedang disiapkan. Biiip ... Biiip ... Biiip... Bunyi monitor jantung yang mengalun panjang tanpa riak gelombang memotong sisa-sisa ketegaran yang selama ini Rania pertahankan dengan susah payah. Pertahanan mentalnya yang mati rasa di kediaman Wicaksono runtuh total dalam satu kedipan mata. "Ayah ... jangan tinggalkan Rania ... Ayah, tolong..." bisik Rania lirih. Suaranya pecah, berubah menjadi isakan pilu yang teramat menyayat hati. Air matanya luruh dengan deras, memasuki fase histeris yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Lututnya mendadak kehilangan seluruh kekuatan untuk terus menopang berat tubuhnya. Rania limbung ke belakang. Namun, sebelum tubuhnya sempat menyentuh lantai koridor yang dingin, sepasang lengan kekar yang kokoh telah menangkapnya dari belakang. Raka menarik tubuh Rania ke dalam dekapannya, menahan wanita itu agar tidak jatuh. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Raka memeluk istrinya dengan erat di depan publik, menyembunyikan wajah sembap Rania di daada bidangnya. Detak jantung Raka berdegup kencang, bukan hanya karena panik melihat kondisi Ayah Surya, melainkan karena rasa perih yang mendadak menghantam batinnya sendiri saat mendengar tangisan putus asa dari wanita di pelukannya. Ia menyadari, di balik dinding es yang dipasang Rania selama ini, ada luka yang begitu dalam. Deg! Tepat di dalam ruang ICU, setelah alat pacu jantung ditempelkan untuk ketiga kalinya ke d**a Ayah Surya, garis lurus di monitor mendadak melompat naik. Bunyi statis yang panjang berubah menjadi detak ritmis yang lambat namun konstan. Tim dokter tampak mengembuskan napas lega, menurunkan alat-alat medis mereka. Dokter senior keluar dari ruangan dengan peluh di dahinya, menatap Rania yang masih berada di pelukan Raka. "Fase kritisnya sudah lewat. Jantung Bapak Surya berhasil merespons alat pacu jantung di detik-detik terakhir. Tapi kondisinya saat ini masuk ke dalam fase koma yang lebih dalam. Kami harus memasang alat penyokong hidup tambahan yang membutuhkan pemantauan intensif jangka panjang." Mendengar kata selamat namun diikuti dengan koma dan alat penyokong hidup, Rania perlahan melepaskan diri dari dekapan Raka. Ia menghapus air matanya, menatap lurus ke dalam ruang kaca tempat ayahnya kini dikelilingi oleh lebih banyak mesin medis yang harganya pasti selangit. Rania menarik napas panjang, mengunci kembali emosinya rapat-rapat. Dinding es yang sempat runtuh tadi kini dibangunnya kembali, bahkan lebih kokoh dari sebelumnya. Ia tahu, dia tidak bisa pergi. Nyawa ayahnya kini sepenuhnya bergantung pada setiap lembar uang dan fasilitas yang dimiliki oleh pria di sebelahnya. Raka yang melihat perubahan drastis wajah Rania kembali menjadi dingin mendadak merasakan dadanya berdenyut aneh. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun langkah kaki yang tergesa-gesa dari ujung koridor memotong niatnya. Hanny datang paruh malam itu, dengan napas terengah-engah dan wajah yang dipenuhi kecemasan yang dibuat-buat. Tanpa memedulikan keberadaan Rania, Hanny langsung menghambur mendekati Raka dan meraih lengan pria itu dengan erat. "Mas Raka ... syukurlah Mas tidak apa-apa. Hanny takut sekali di rumah sendirian setelah Mas pergi begitu panik," ucap Hanny dengan suara manja yang bergetar lirih, menatap Raka penuh ketergantungan. "Nina terbangun dan menangis mencari Papanya. Ayo kita pulang, Mas. Urusan di sini kan sudah ada tim dokter dan Mbak Rania yang menjaga." Rania melirik ke arah jemari Hanny yang mencengkeram lengan suaminya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Raka yang tampak terdiam, terbagi antara kewajibannya pada Nina dan rasa bersalahnya pada Rania. Seulas senyuman tipis tanpa nyawa terukir di bibir Rania hingga lesung pipinya muncul samar. Ia menatap suaminya dengan sepasang mata kosong yang mengunci batin Raka seketika. "Pulanglah, Mas Raka. Anak dan adik iparmu lebih membutuhkanmu di rumah," bisik Rania dengan nada suara yang teramat jernih namun terasa begitu menusuk. "Jangan biarkan transaksi medis ayahku terganggu hanya karena kau terlalu lama berdiri di sini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN