"Kau tahu, Mas Raka dulu membelikan Mbak Marsha kalung berlian ini langsung dari Paris saat perayaan satu bulan pernikahan mereka."
Suara Hanny yang renyah namun sarat akan penekanan sengaja dilemparkan di ruang tengah pada hari kesembilan pernikahan mereka. Pagi itu, Rania yang baru saja turun dari lantai dua untuk meminta air hangat pada Bi Sumi terpaksa menghentikan langkahnya di dekat pembatas ruang.
Di sana, Hanny sedang duduk di sofa panjang bersama Nina. Di atas meja kopi, sebuah kotak beludru merah tua terbuka lebar, menampilkan seuntai kalung berlian dengan desain klasik yang sangat indah. Hanny tampak sengaja mengangkat kalung itu tinggi-tinggi di bawah bias lampu ruangan, memastikan sinarnya tertangkap oleh mata Rania yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Bunda, nanti kalau Nina sudah besar, kalung punya Mama ini buat Nina ya?" tanya Nina dengan suara khas anak-anak, mendongak menatap tantenya penuh harap.
Hanny tersenyum manis, jemarinya mengusap rambut bocah enam tahun itu dengan kelembutan yang kentara. "Tentu saja sayang. Ini semua milik Mama Marsha, jadi hanya boleh diturunkan kepada Nina. Tidak boleh ada orang lain yang menyentuh atau memilikinya, paham?"
Mata bulat Hanny melirik sekilas ke arah Rania, seolah memastikan duri ucapannya menancap dengan pas.
Namun, Rania hanya menatap benda berkilau itu dengan pandangan datar. Setelah dua tahun tiga bulan—bukan, setelah sembilan hari yang terasa seperti bertahun-tahun ini—batinnya telah dilatih untuk tidak memedulikan apa pun yang berkaitan dengan masa lalu rumah ini. Ia melangkah tenang melewati mereka menuju dapur bersih, mengambil cangkir air hangatnya, lalu kembali berjalan naik ke lantai dua tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Hanny yang melihat reaksi dingin itu seketika merengut kesal. Trik halusnya yang biasa memicu riak cemburu atau wajah sendu dari Rania kini benar-benar terasa tumpul di hadapan ketenangan mati rasa sang istri sah.
Siang harinya, Rania menghabiskan waktu berjam-jam di rumah sakit. Kondisi Ayah Surya menunjukkan grafik yang sedikit lebih baik, meskipun kesadarannya belum pulih total. Duduk di samping ranjang ayahnya sembari menggenggam tangan tua yang dipasangi selang infus adalah satu-satunya momen di mana Rania merasa dirinya benar-benar bernyawa.
Pukul tujuh malam, Rania baru melangkah masuk ke dalam lobi rumah mewah keluarga Wicaksono. Langkah kakinya yang teratur mendadak terhenti saat melihat pemandangan di ruang makan.
Raka sudah berada di sana, tubuhnya yang setinggi seratus sembilan puluh lima sentimeter itu tampak menjulang meski sedang duduk di kursi utamanya. Pria itu sudah menanggalkan jas kerjanya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi. Di sebelah kanannya, Nina sedang asyik menyuap makanannya, sementara Hanny duduk di sebelah kiri Raka, tampak sangat telaten menuangkan air putih ke gelas pria itu.
Suasana makan malam itu tampak begitu hangat, hangat yang eksklusif, seolah ruangan itu tidak menyisakan ruang seosenti pun untuk orang keempat seperti Rania.
Raka mendongak begitu menyadari kehadiran seseorang. Sorot mata elangnya yang semula melunak saat menatap Nina langsung berubah menjadi dingin dan kaku saat bertubruk pandang dengan Rania. Pria itu meletakkan sendoknya perlahan.
"Duduk dan makan, Rania," ucap Raka membuka suara. Suara baritonnya yang berat dan rendah menggema di ruang makan, bernada perintah yang tidak menerima bantahan. "Aku tidak ingin mendengar alasan kau melewatkan makan malam lagi seperti kemarin."
Rania menatap kursi kosong yang berada cukup jauh di ujung meja. Ia menarik napas pendek, lalu melangkah mendekat. Alih-alih membantah atau menunjukkan wajah keberatan, ia menarik kursi itu dengan gerakan anggun tanpa suara, lalu duduk dengan tenang.
Hanny tersenyum tipis, matanya berkilat penuh rencana tersembunyi. "Wah, Mbak Rania baru pulang. Pas sekali, Hanny tadi masak menu spesial. Tapi... maaf ya Mbak, Hanny lupa menyisakan porsi tanpa udang. Hanny baru ingat kalau Mbak Rania punya alergi parah terhadap makanan laut."
Suasana di meja makan mendadak membeku. Rania menatap piring saji di depannya yang dipenuhi potongan udang besar dengan saus kental. Hanny tentu saja tidak lupa; wanita itu tahu persis rekam medisnya dari berkas keluarga yang pernah dikirimkan Baskara. Ini adalah cara halus Hanny untuk menyingkirkannya dari meja makan secara legal di depan Raka.
Rania melirik ke arah Raka, berharap setidaknya pria yang statusnya adalah suaminya itu akan bersuara atau memerintahkan pelayan untuk membuatkan menu lain. Namun, Raka hanya menatap piring itu datar, lalu kembali melanjutkan makan malamnya seolah hal itu bukan masalah besar baginya. Pengabaian Raka yang begitu konsisten seolah menegaskan bahwa keberadaan Rania di meja ini memang tidak pernah dianggap penting.
Dada Rania berdenyut samar, namun wajahnya tetap flat. Ia meletakkan kembali sendoknya di atas meja dengan ketukan pelan yang konstan.
"Tidak apa-apa, Hanny. Silakan dinikmati," ucap Rania dengan nada suara yang teramat jernih, tenang, dan kosong dari emosi. Ia bangkit berdiri dari kursinya, merapikan letak duduknya kembali dengan sangat sopan. "Mas Raka, karena aku tidak bisa memakan hidangannya, aku permisi ke kamar atas lebih dulu untuk beristirahat. Selamat malam."
Rania membalikkan tubuhnya dan melangkah menaiki anak tangga dengan kepala tegak, meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, ia bisa merasakan tatapan mata elang Raka yang menggelap, sarat akan kekesalan yang tertahan melihat istrinya lagi-lagi mengabaikan otoritasnya dengan ketenangan yang mematikan.
Malam semakin larut ketika keheningan kamar lantai dua mendadak dipecah oleh suara ketukan yang teramat terburu-buru dan kasar dari arah pintu penghubung kayu jati.
Tok! Tok! Tok!
Rania yang sedang membaca buku di atas ranjang seketika menoleh. Ketukan itu tidak seperti biasanya yang lambat dan menindas. Kali ini, ketukan itu terdengar dipenuhi kepanikan yang amat sangat dari seberang sana.
"Rania! Buka pintunya!" suara bariton Raka terdengar meninggi, bergetar hebat dengan nada yang belum pernah Rania dengar sebelumnya. "Rania! Cepat buka!"
Rania mengernyitkan alisnya samar. Ia bangkit berdiri, berjalan mendekati pintu penghubung yang terkunci rapat dari sisinya. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh selot besi untuk memutarnya, suara Raka di seberang sana kembali terdengar, memotong malam dengan kalimat yang sanggup menghentikan detak jantung Rania seketika.
"Baskara baru saja menelepon dari rumah sakit ... Jantung ayahmu mendadak berhenti, Rania! Mereka sedang melakukan tindakan darurat sekarang!"