Bab 8

947 Kata
Hari kedelapan di kediaman Wicaksono berganti tanpa banyak riak di permukaan, namun ketegangan di dalam rumah itu semakin memadat. Rania sengaja melewatkan waktu makan malam bersama. Selepas pulang dari rumah sakit menjelang magrib, ia langsung mengunci diri di kamar atas, memilih untuk menyantap roti tangkup sederhana yang sempat ia beli di minimarket dekat tempat perawatan ayahnya. Baginya, melewatkan jam makan di ruang bawah adalah cara terbaik untuk menghemat energi batinnya. Ia tidak perlu lagi melihat sandiwara kebersamaan Hanny dan Nina, juga tidak perlu berhadapan dengan tatapan menghakimi dari suaminya yang selalu terasa menuntut kepatuhan mutlak. Di dalam kamarnya yang temaram, Rania duduk di tepi ranjang yang luas, menekuni buku catatan kecil berisi jadwal obat dan perkembangan terapi bicara untuk ayahnya. Di luar, suara angin malam sesekali mengetuk kaca jendela, membawa hawa dingin yang perlahan menembus pori-pori kulitnya. Tepat pukul sembilan malam, suara deru mobil yang sangat ia kenal terdengar memasuki halaman depan. Selang sepuluh menit kemudian, langkah kaki tegap dengan ketukan yang berat dan konstan terdengar menaiki anak tangga kayu jati. Raka sudah pulang. Biasanya, langkah kaki itu akan langsung menuju ke pintu kamarnya sendiri atau berbelok ke arah kamar Nina di ujung koridor. Namun malam ini, derap langkah kaki Raka terdengar memelan begitu mendekati area kamar Rania. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu utama kamarnya yang menghadap ke koridor. Tok. Tok. Tok. Tiga ketukan tegas dan berat terdengar memecah keheningan malam. Rania menutup buku catatannya perlahan, menatap pintu kayu tebal di depannya dengan pandangan yang tenang. Ia bangkit berdiri, merapikan blus tidurnya sekilas, lalu berjalan mendekat dan memutar kunci bagian dalam untuk membuka pintu utama tersebut. Begitu daun pintu terbuka, sosok tinggi besar Raka Aditya Wicaksono langsung mendominasi pandangan Rania. Pria bertubuh seratus sembilan puluh lima sentimeter itu masih mengenakan setelan kerja lengkapnya, hanya saja dasinya sudah ditanggalkan dan dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, menampilkan gurat kelelahan yang nyata di wajah tegasnya. Sepasang mata elangnya yang tajam langsung menatap lurus ke dalam manik mata Rania. "Kau sengaja menghindari makan malam?" tanya Raka tanpa basa-basi. Suara baritonnya yang berat terdengar rendah, namun sarat akan nada interogasi yang mengintimidasi. Rania berdiri tegak di ambang pintu kamarnya, mempertahankan jarak satu langkah agar tidak terlalu terintimidasi oleh postur suaminya. Ia membalas tatapan itu dengan wajah yang flat, tanpa ada riak takut atau rasa bersalah sedikit pun. "Aku tidak menghindar, Mas Raka. Aku hanya sudah kenyang karena sempat makan di rumah sakit tadi sore," jawab Rania. Suaranya terdengar sangat jernih dan datar, persis seperti nada bicaranya di meja makan tadi pagi. "Lagi pula, bukankah lebih baik begini? Nina bisa makan dengan tenang tanpa harus merasa tidak nyaman karena keberadaanku yang dianggapnya sebagai orang asing." Rahang Raka mengeras mendengar jawaban yang terlampau santai itu. Sorot matanya menggelap, dipenuhi oleh riak emosi yang tertahan. Ego tingginya sebagai pria yang selalu memegang kendali penuh atas rumah ini merasa terusik oleh sikap acuh tak acuh istrinya. Selama bertahun-tahun, semua orang di sekitarnya selalu bergerak sesuai dengan suasana hatinya, namun wanita di depannya ini justru membangun dinding pertahanan yang tidak terjangkau oleh kemarahannya. Raka melangkah maju satu tapak, membuat atmosfer di sekitar ambang pintu mendadak terasa menyempit dan mencekik. "Rania, aku tidak suka jika kau mulai membuat aturanmu sendiri di rumah ini. Pernikahan ini memiliki tata krama yang harus kau patuhi, termasuk berada di meja makan saat aku pulang kerja. Jangan biarkan pelayan atau Hanny berpikir ada yang tidak beres dengan hubungan kita." Mendengar kata 'hubungan kita' keluar dari bibir Raka, Rania hampir saja ingin tertawa kecil, namun ia menahannya. Ia tahu betul arti kata itu bagi suaminya: tidak lebih dari sekadar sebuah penampilan luar demi menjaga reputasi bisnis dan nama baik keluarga Wicaksono. "Hubungan kita memang murni transaksi sejak awal, Mas Raka. Kau sendiri yang tidak pernah absen mengingatkanku tentang hal itu," sahut Rania dengan nada suara yang amat tenang, hampir seperti sedang membacakan laporan keuangan yang membosankan. "Jadi, kurasa tidak ada yang perlu dicemaskan. Di depan Baskara atau siapa pun yang berkepentingan dengan hukum, aku akan tetap menjadi istri transaksi yang paling patuh dan menandatangani semua dokumen yang kau butuhkan. Tapi untuk urusan harian di dalam rumah ini, bukankah kau sendiri yang meminta agar aku tidak mengubah apa pun yang membuat Nina tidak nyaman?" Rania sengaja membalikkan kata-kata Raka di hari kelima lalu untuk mengunci argumen suaminya. Dan itu berhasil dengan telak. Raka tertegun di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu untuk membalas ucapan Rania. Pria itu menatap lekat-lekat wajah istrinya, mencoba mencari sisa-sisa riak kekecewaan, kesedihan, atau amarah terpendam yang biasa ia lihat pada wanita yang sedang terluka batinnya. Namun, ia tidak menemukan apa pun. Wajah Rania benar-benar bersih dari emosi, menyisakan ketenangan mati rasa yang teramat dingin. Keheningan yang pekat merayap di antara mereka di koridor lantai dua yang temaram. Raka mengepalkan jemarinya di sisi tubuh, merasakan kekesalan yang asing mulai membakar batinnya sendiri. Ia terbiasa ditakuti dan dipatuhi karena otoritasnya, namun malam ini, ia menyadari bahwa ia tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menyentuh atau mengoyak ketenangan wanita yang ada di hadapannya ini. "Kembalilah beristirahat," ucap Raka akhirnya pada tingkat suara yang sangat rendah, hampir seperti geraman yang tertahan. Pria itu membalikkan tubuhnya dengan gerakan kaku, melangkah pergi menuju kamarnya sendiri dengan derap yang berat dan sarat akan emosi yang belum tuntas. Rania menatap punggung suaminya yang menjauh hingga pintu kamar sebelah tertutup dengan bunyi berdebam pelan. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan menutup kembali pintu kamarnya sendiri dan memutar kunci bagian dalam hingga terdengar bunyi klik yang solid. Malam itu, di hari kedelapan pernikahan mereka, Rania kembali ke ranjangnya dengan perasaan aman yang utuh. Dinding yang ia bangun di sekeliling batinnya telah teruji malam ini, dan ia tahu, Raka Aditya Wicaksono tidak akan pernah bisa meruntuhkannya lagi dengan mudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN