Pagi di hari ketujuh pernikahan mereka disambut oleh aroma kopi hitam yang pekat dan hawa dingin dari pendingin ruangan yang menyala konstan di lantai bawah. Rania Ayu Putri menuruni anak tangga satu demi satu tepat pukul enam pagi. Ia mengenakan blus katun polos berwarna krem yang rapi dengan rambut yang diikat cepol sederhana di tengkuk, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah pucatnya. Langkah kakinya terdengar teratur, tidak ada lagi keraguan, ketergesaan, atau rasa sungkan yang berlebihan seperti hari-hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah ini.
Di atas meja makan mewah yang luas itu, beberapa lembar dokumen legal sudah tergeletak rapi di dekat vas bunga lili—persis seperti yang ia minta di balik pintu semalam. Di sebelah tumpukan kertas itu, sebuah pena bermerek mewah berwarna hitam dengan aksen emas sudah disiapkan oleh pelayan atas perintah Baskara.
Raka Aditya Wicaksono sudah duduk di kursi utamanya di ujung meja. Pria berpostur tegap itu tampak megah sekaligus mengintimidasi dengan setelan kemeja kerja berwarna abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh kekarnya.
Jemarinya yang panjang bergerak tenang di atas layar tablet yang menampilkan grafik saham pagi. Wajah tegasnya tampak kaku seperti biasa, dengan garis rahang kokoh yang mengeras samar. Sorot mata elangnya yang tajam langsung bergerak mengunci sosok Rania begitu wanita itu melangkah memasuki perimeter ruang makan.
Rania tidak menghindari tatapan itu lagi. Ia tidak lagi menunduk atau meremas ujung bajunya seperti hari-hari lalu. Dengan langkah yang anggun namun terukur, ia mendekati meja makan. Namun, ia tidak mengambil posisi duduk di kursi yang berada tepat di sebelah kanan suaminya. Rania memilih berdiri di sisi meja yang berseberangan dengan Raka, membatasi diri mereka dengan jarak marmer yang luas. Ia langsung meraih pena mewah itu dan menarik dokumen asuransi kesehatan tambahan untuk ayahnya ke hadapannya.
Tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya, Rania membalik halaman demi halaman dokumen tersebut dengan gerakan jemari yang teratur. Matanya dengan cermat membaca setiap poin krusial yang tertera di sana. Ia tidak ingin melewatkan satu klausul pun, memastikan dirinya memahami setiap detail transaksi yang mengikat hidup ayahnya pada kekayaan pria di hadapannya. Setelah memastikan semuanya sesuai, Rania membubuhkan tanda tangannya di atas beberapa lembar meterai dengan coretan yang tegas dan tanpa ragu.
Sret!
Sret!
Suara goresan pena itu terdengar begitu jelas di tengah keheningan ruang makan yang sunyi. Raka menurunkan tabletnya perlahan ke atas meja. Matanya sama sekali tidak lepas dari setiap pergerakan jemari Rania, memperhatikan bagaimana wanita itu bergerak dengan begitu efisien.
Ada atmosfer yang tidak biasa di antara mereka pagi ini—bukan lagi atmosfer canggung dari seorang istri tiri yang terintimidasi oleh kemegahan rumah dan suaminya, melainkan atmosfer formal, dingin dan kaku dari dua orang asing yang sedang menyelesaikan kewajiban kontrak bisnis.
"Kau tidak berniat sarapan dulu?" tanya Raka membuka suara. Suara baritonnya yang berat dan rendah memecah kesunyian, langsung diarahkan pada Rania dengan nada yang datar namun sarat akan tatapan menyelidik yang tajam.
Rania merapikan kembali lembaran-lembaran kertas yang sudah selesai ia tanda tangani. Ia menyamakan ujung-ujung kertas itu di atas meja dengan gerakan mengetuk pelan, memastikan semuanya tertata rapi untuk diambil oleh Baskara nanti.
Setelah selesai, ia mendongak dan menatap tepat ke dalam manik mata elang suaminya. Seulas senyuman tipis terukir di wajahnya hingga sepasang lesung pipinya muncul samar—sebuah senyuman formal yang sangat manis namun terasa kosong, jenis senyuman yang hanya bergerak di permukaan bibir tanpa secuil pun menyentuh binar di matanya.
"Tidak usah, Mas Raka. Terima kasih," jawab Rania. Suaranya terdengar sangat jernih, tenang, dan diatur tanpa melibatkan emosi sedikit pun. "Aku akan langsung sarapan di kantin rumah sakit nanti, setelah menemui tim dokter yang merawat Ayah untuk mendengar laporan visitasi pagi."
Sikap Rania yang terlampau efisien, dingin, dan menempatkan jarak yang begitu tegas ini entah kenapa membuat rahang Raka mengetat. Pria itu terbiasa menjadi sosok tunggal yang menentukan jarak, menolak keterikatan, dan menetapkan batasan dingin di rumah ini.
Namun pagi ini, melihat Rania yang berdiri tegak di seberang mejanya dengan ekspresi sedatar dinding kaca kantor pusat perusahaannya, ego Raka yang tinggi seperti disentil oleh rasa tidak nyaman yang asing dan mengusik batinnya. Ada sesuatu yang hilang dari kepatuhan canggung Rania yang biasa ia lihat, dan itu membuatnya terganggu tanpa ia sadari.
Belum sempat Raka menanggapi kalimat istrinya, suara langkah kaki kecil yang riang terdengar menuruni anak tangga, disusul oleh suara langkah kaki Hanny yang berjalan di belakangnya. Nina, bocah perempuan berusia enam tahun itu, melangkah masuk ke ruang makan sambil memeluk tas sekolahnya.
Sementara Hanny tampil anggun dengan terusan berwarna lembut, wajah manisnya langsung dihiasi senyuman cerah saat matanya tertuju pada Raka. Namun, senyuman itu sedikit tertahan dan berubah canggung saat menangkap keberadaan Rania yang berdiri di sana.
"Eh, Mbak Rania sudah di bawah..." Hanny melangkah mendekat dengan gerakan cepat yang anggun, tangannya dengan cekatan langsung menarik kursi di sebelah Raka untuk mendudukkan Nina, memosisikan diri dengan sangat alami di antara Raka dan lingkungan sekitarnya. "Hanny tadi baru mau turun untuk buatkan Mas Raka roti panggang gandum kesukaan Mas, tapi ternyata Mbak Rania sudah ada di sini lebih dulu. Maaf ya Mbak, Hanny tidak bermaksud lancang mendahului tugas Mbak sebagai istri lagi di dapur."
Kalimat Hanny kembali menggunakan pola yang sama seperti hari-hari sebelumnya, sebuah kalimat yang dibungkus dengan kedok permintaan maaf yang polos dan tulus, padahal secara terselubung sedang memamerkan dominasii, kedekatan, serta pemahaman mendalam yang ia miliki tentang kebiasaan harian Raka yang tidak diketahui Rania.
Dulu, di hari-hari awal pernikahan transaksi ini, Rania mungkin akan merasa dadanya sesak, jantungnya berdegup panik, dan memilih untuk meminta maaf dengan canggung atau mundur ke belakang untuk menyembunyikan lukanya. Namun pagi ini, pertahanan batin Rania yang baru telah terpasang dengan kokoh. Ia hanya menatap Hanny dengan pandangan mata yang benar-benar flat, tanpa ada riak tersinggung, amarah, atau rasa cemburu sedikit pun di dalamnya.
"Tidak apa-apa, Hanny. Silakan dilanjutkan," sahut Rania dengan nada suara yang santai dan ringan. Ia meletakkan pena mewah itu kembali ke tempatnya semula di dekat vas bunga dengan ketukan pelan yang konstan. "Dokumen asuransi tambahannya sudah selesai kutandatangani semua, Mas Raka. Aku permisi ke depan sekarang untuk menunggu sopir pribadi yang kau sediakan kemarin."
Rania mengangguk hormat sekilas kepada Raka dengan sikap yang teramat sopan namun berjarak, lalu membalikkan tubuhnya tanpa menunggu jawaban dari suaminya. Ia melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan kepala tegak, berjalan melewati koridor depan tanpa sekali pun menoleh lagi ke arah Hanny yang tertegun ataupun ke arah Nina yang memperhatikannya dengan tatapan tidak suka yang anak-anak.
Hanny terpaku sejenak di tempatnya berdiri, jemarinya yang sedang memegang serbet makan tampak membeku. Matanya berkedip tidak percaya melihat reaksi Rania yang sama sekali tidak membuahkan hasil seperti biasanya. Duri-duri ucapan yang biasanya berhasil membuat Rania meremas jemarinya sendiri atau menunduk dengan mata berkaca-kaca, kali ini seperti memantul begitu saja pada dinding es tak kasatmata yang baru saja dibangun oleh wanita itu dari balik pintu kamarnya.
Raka tidak melepaskan pandangannya dari punggung Rania yang menjauh hingga sosok istrinya itu benar-benar menghilang di balik pintu lobi depan. Sorot mata elangnya menggelap, dipenuhi oleh riak emosi yang tertahan dan membingungkan batinnya sendiri.
Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah permukaan meja makan, merasakan kepuasan kendali mutlak yang biasa ia miliki di atas segalanya di rumah ini perlahan-lahan mulai goyah—bukan karena kemarahan atau protes dari istrinya, melainkan karena ketenangan mati rasa yang dipasang oleh Rania di hari ketujuh pernikahan mereka.
Sambil menatap jalanan depan yang basah oleh gerimis dari balik kaca mobil mewah yang membawanya menuju rumah sakit, Rania menarik napas panjang. Rasa perih di dadanya tidak lagi sedalam beberapa hari lalu. Ia tahu penjaranya di rumah megah itu masih teramat panjang, namun setidaknya, ia telah menemukan cara untuk berjalan di dalamnya tanpa harus membiarkan batinnya hancur berkeping-keping setiap hari.