Bab 6

1140 Kata
Hari keenam pernikahan dimulai dengan hujan gerimis yang membasahi kaca jendela kamar lantai dua. Rania menatap keluar, memperhatikan butiran air yang mengalir turun seperti air mata yang enggan ia tunjukkan di rumah ini. Sesuai perintah Raka semalam, siang ini ia terpaksa pergi ke rumah sakit menggunakan mobil mewah dan sopir pribadi yang disediakan suaminya. Sebuah fasilitas yang terasa seperti sangkar emas yang bergerak. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit sore itu, pikiran Rania dipenuhi oleh wajah Ayah Surya yang masih terpejam lemah di ruang perawatan. Setiap denyut mesin generator di rumah sakit mengingatkannya pada harga yang harus ia bayar untuk mempertahankan napas ayahnya, kebebasannya sendiri. Ketika mobil hitam besar itu memasuki halaman kediaman Wicaksono, Rania berterima kasih kepada sopir lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Suasana lobi depan tampak sepi, namun saat ia melewati koridor menuju tangga, ia mendengar suara tawa kecil dari arah ruang keluarga. Rania menoleh dan mendapati Raka—yang biasanya baru pulang larut malam—sudah duduk di sofa besar. Pria bertubuh seratus sembilan puluh lima sentimeter itu tampak menanggalkan jasnya, menyisakan kemeja putih dengan kancing atas yang terbuka. Di sampingnya, Nina sedang asyik mewarnai sebuah buku gambar besar, sementara Hanny duduk dekat dengan mereka, sesekali membenulkan posisi duduk Nina dengan kelembutan yang kentara. "Papa, lihat! Nina mewarnai gaun Princess-nya pakai warna merah muda, seperti gaun yang Bunda Hanny belikan minggu lalu," celoteh Nina riang, mendongak menatap ayahnya. Raka mengusap rambut putrinya dengan senyuman hangat yang seketika mengubah wajah kaku binisnya menjadi sosok ayah yang penuh kasih. "Bagus. Pilihan warna yang pintar." Hanny mendongak saat menyadari langkah kaki Rania yang mendekat. Senyum di wajah manisnya mendadak berubah menjadi ekspresi sungkan yang dibuat-buat. "Eh, Mbak Rania baru pulang dari rumah sakit? Maaf ya Mbak, Mas Raka hari ini pulang lebih cepat karena pekerjaan kantornya selesai awal. Kami baru saja mau menunggumu untuk minum teh sore bersama." Raka turut mendongak. Begitu matanya membentur sosok Rania, kehangatan yang tadi terpancar untuk Nina langsung menyusut, digantikan oleh sorot mata elang yang dingin, datar, dan sarat akan jarak. Pria itu tidak mengucapkan kata sambutan apa pun, hanya menatap istrinya sekilas sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada buku gambar Nina. "Terima kasih, Hanny. Tapi aku agak lelah, aku langsung ke kamar saja," jawab Rania pelan. Suaranya diatur seflat mungkin agar riak di dadanya tidak terbaca oleh siapa pun di ruangan itu. Sebelum Rania membalikkan badan menuju tangga, Nina mendongak dan menatapnya dengan pandangan penuh permusuhan anak-anak yang belum tersaring. "Papa, kenapa Tante Rania selalu cemberut kalau lihat Nina sama Bunda Hanny? Nina nggak suka. Jangan biarkan Tante Rania masuk ke kamar Papa." Suasana ruang keluarga itu mendadak hening sejenak. Hanny buru-buru memeluk bahu Nina dengan ekspresi panik yang tampak sangat polos. "Eh, Nina ... tidak boleh bicara begitu sayang. Tante Rania kan sedang lelah mengurus Ayah Surya di rumah sakit..." Raka tidak menegur ucapan lancang putrinya. Ia hanya menatap Rania dengan ketegasan yang dingin, seolah ucapan Nina adalah sebuah maklumat yang memang harus dipatuhi. "Rania, masuklah ke kamarmu dan istirahat. Jangan membuat suasana di sini menjadi tidak nyaman untuk Nina." Kalimat Raka yang tenang namun menghakimi itu terasa seperti sebuah tamparan tak kasatmata. Raka lebih memilih membela ego kekanak-kanakan putrinya dan menjaga perasaan Hanny, ketimbang menegakkan harga diri istri sahnya sendiri di depan mereka. "Baik, Mas," jawab Rania lirih. Ia membalikkan tubuh dengan kepala tegak, melangkah menaiki anak tangga satu demi satu tanpa menoleh lagi, meski dadanya terasa sesak seperti dihantam batu besar. Malam harinya, rumah megah itu kembali diselimuti keheningan yang mencekik. Rania selesai membersihkan diri dan mengenakan gaun tidur satin sederhana berwarna abu-abu. Ia duduk di tepi ranjangnya yang luas sendirian, menatap pintu kayu jati yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Raka. Selama enam hari ini, pintu itu selalu terkunci dari kedua sisi. Namun malam ini, setelah rentetan penolakan yang ia terima secara halus dari suaminya dan intimidasi terselubung dari Hanny, Rania merasakan sesuatu di dalam dirinya mulai bergeser. Rasa canggung dan sedih yang awalnya mendominasi perlahan mulai berubah menjadi sebuah benteng pertahanan yang dingin. Rania bangkit berdiri dari ranjang. Dengan langkah kaki yang mantap tanpa ragu, ia berjalan mendekati pintu penghubung kayu jati tersebut. Tangannya terulur ke arah selot kunci besi yang berada di sisinya. Klek. Rania memutar kunci itu dengan kuat, memastikan pintu penghubung dari arah kamarnya kini telah terkunci rapat secara permanen oleh tangannya sendiri. Jika Raka menganggap pernikahan ini hanyalah transaksi dan batas hukum demi citra, maka Rania akan memberikan persis apa yang pria itu inginkan, sebuah jarak mutlak yang tidak akan pernah bisa ditembus lagi. Tepat saat Rania melangkah mundur dari pintu, terdengar suara langkah kaki berat Raka memasuki kamar di seberang sana. Kehadiran pria bertubuh seratus sembilan puluh lima sentimeter itu selalu membawa aura domiinan yang terasa menembus dinding. Tok. Tok. Ketukan lambat dan penuh penekanan terdengar dari bilah kayu jati. Raka berdiri di kamarnya, memegang knop pintu yang baru saja ia sadari telah dikunci lebih kokoh dari sisi Rania. "Rania," suara bariton Raka terdengar rendah dan dingin di balik pintu. "Baskara memberi tahu bahwa besok pagi ada beberapa dokumen asuransi kesehatan tambahan untuk ayahmu yang perlu kau tanda tangani di ruang kerjaku sebelum aku berangkat." Rania berdiri diam di tengah kamarnya yang temaram. Ia tidak mendekati pintu, membiarkan jarak beberapa meter tetap memisahkan mereka. "Taruh saja dokumennya di meja makan besok pagi, Mas. Aku akan menandatanganinya di sana. Kau tidak perlu menungguku di ruang kerja." Hening menjalar cukup lama di seberang pintu. Raka tampaknya tertegun mendengar jawaban Rania yang terlampau tenang—tanpa ada nada protes, tanpa ada riak kecewa atau nada ingin dihargai seperti hari-hari sebelumnya. Nada bicara Rania malam ini terdengar sangat datar, hampir menyerupai caranya sendiri saat berbicara tentang bisnis. Rahang Raka mengeras di balik pintu. Ego tingginya sebagai pria yang selalu memegang kendali penuh atas segala hal mendadak terusik oleh selot kunci yang baru saja dipasang Rania dari dalam. Pria itu terbiasa menjadi pihak yang menolak dan membatasi, namun malam ini, ia menyadari bahwa wanita yang ia beli lewat transaksi utang itu telah membangun dinding pertahanannya sendiri. "Ini urusan penting, Rania. Jangan mencampurkan masalah pribadi dengan dokumen legal ayahmu," ucap Raka dengan nada perintah yang menindas, mencoba menegakkan otoritasnya. "Aku tahu ini urusan transaksi kita, Mas Raka. Karena itu aku bilang aku akan menandatanganinya besok pagi di meja makan, tempat yang semestinya," balas Rania dengan suara yang amat jernih namun terasa kosong dari emosi. "Selamat malam." Tidak ada ketukan lagi dari seberang. Setelah beberapa saat, terdengar langkah kaki Raka yang menjauh dengan ritme yang berat dan sarat akan emosi yang tertahan. Rania kembali berjalan menuju ranjangnya. Di bawah keheningan malam hari keenam pernikahannya, ia menarik selimutnya dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Air matanya tidak luruh lagi malam itu. Di dalam sudut yang sunyi ini, Rania Ayu Putri telah mengambil keputusan, ia akan menjadi boneka transaksi yang paling patuh, namun jiwanya tidak akan pernah bisa disentuh lagi oleh Raka Aditya Wicaksono.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN