Bab 5

1043 Kata
Pagi di hari kelima pernikahan mereka membawa kabut tipis di atas halaman kediaman Wicaksono. Rania terbangun dengan denyut samar di kepalanya, buah dari tidur yang tidak pernah lelap sejak ia menempati kamar di lantai dua ini. Setelah membasuh wajahnya, ia memutuskan untuk turun lebih awal, berharap bisa mendapatkan waktu tenang sebelum seluruh penghuni rumah terbangun. Namun, harapan itu pupus saat ia menapakkan kaki di anak tangga terakhir. Di ruang tengah, Raka sudah bersiap dengan kemeja biru navy yang lengannya digulung rapi, sementara Hanny sedang berlutut di depan Nina yang cemberut, mencoba membujuk bocah itu untuk memakai sepatu sekolahnya. "Nina sayang, ayo dipakai sepatunya. Nanti telat, Papa tidak bisa antar sampai gerbang loh," bujuk Hanny dengan suara keibuan yang teramat lembut. Nina menggelengkan kepalanya kuat-kua. "Nggak mau! Nina mau Papa yang pasangkan! Bukan Bunda Hanny, bukan orang lain!" Raka menghela napas pendek, lalu membungkuk perlahan. Dengan sosok tubuhnya yang tinggi besar, tindakan pria itu yang dengan sabar memakaikan sepatu untuk putrinya menciptakan kontras yang begitu hangat. "Sudah. Sekarang anak Papa tidak boleh cemberut lagi." Rania berdiri mematung di dekat pilar pembatas ruang tengah. Menyaksikan interaksi itu, ada rasa asing yang menyergap dadanya. Mereka bertiga terlihat seperti sebuah keluarga yang utuh dan tak celah, sementara dirinya tak lebih dari sekadar pajangan yang salah tempat. Hanny yang pertama kali menyadari kehadiran Rania segera bangkit berdiri. Wajahnya langsung berubah panik yang dibuat-buat polos. "Eh, Mbak Rania... maaf ya, pagi-pagi begini kami sudah berisik di bawah. Nina agak rewel hari ini." Raka mendongak, tatapan mata elangnya kembali ke setelan semula—dingin, datar, dan berjarak. Ia bangkit berdiri dan merapikan letak jam tangannya. "Rania, hari ini aku ada rapat koordinasi dengan jajaran direksi hingga malam. Baskara sudah mengonfirmasi bahwa biaya perawatan intensif untuk ayahmu di rumah sakit sudah terbayar penuh untuk satu semester ke depan." Rania mengangguk pelan, meremas ujung blus rumahan yang ia kenakan. "Terima kasih, Mas Raka. Soal kondisi Ayah..." "Urusan medisnya sudah diatur oleh tim dokter terbaik," potong Raka cepat, suaranya flat tanpa intonasi emosi. "Kau cukup memastikan dirimu tidak membuat masalah di rumah ini dan menjaga sikap di depan Nina. Itu sudah cukup." Sebelum Rania sempat menyahut, Raka sudah menggandeng tangan Nina dan berjalan menuju pintu depan, disusul oleh Hanny yang membawa tas sekolah bocah itu. Mereka pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Rania dalam kepungan keheningan rumah mewah yang mendadak terasa begitu mencekik. Siang harinya, Rania memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Berada di dalam rumah besar itu terlalu lama perlahan mulai mengikis kewarasannya. Setidaknya, di dekat ranjang perawatan Ayahnya, Rania merasa memiliki jangkar untuk tetap bertahan. Namun, ketenangan di ruang ICU pun tidak bertahan lama. Saat Rania sedang mengusap punggung tangan Ayahnya yang dipasangi berbagai selang medis, pintu kamar perawatan diketuk pelan. Hanny masuk dengan membawa sebuah keranjang buah yang mahal. "Mbak Rania..." Hanny melangkah masuk dengan gerakan yang teramat anggun, wajahnya memasang raut penuh simpati. "Hanny sengaja datang menyusul setelah mengantar Nina les. Bagaimana kondisi Ayah Surya?" Rania membetulkan letak selimut Ayahnya sebelum berbalik menghadap Hanny. "Kondisinya masih belum stabil, tapi dokter bilang detak jantungnya sudah lebih teratur. Terima kasih sudah datang, Hanny." Hanny meletakkan keranjang buah di atas meja kecil, lalu berjalan mendekati ranjang, menatap pria paruh baya yang terpejam lemah itu. "Kasihan sekali Ayah Surya... Hanny benar-benar ikut sedih melihatnya. Tapi di sisi lain, Hanny juga merasa lega, Mbak." Rania mengernyitkan alisnya samar. "Lega?" Hanny menoleh, sepasang mata bulatnya menatap Rania dengan kilatan yang teramat dingin, kontras dengan senyuman tipis yang terukir di bibirnya. "Iya, lega. Karena berkat penyakit Ayah Surya dan kebangkrutan perusahaannya, Mbak Rania bisa mendapatkan suami sekelas Mas Raka. Kalau bukan karena utang budi dan janji masa lalu pada mendiang kakek, rasanya sulit membayangkan Mas Raka mau melirik wanita lain setelah kepergian Mbak Marsha." Duri itu dihujamkan dengan begitu tenang dan presisi di samping ranjang orang tua Rania yang sedang sekarat. Rahang Rania mengencang, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Hanny, jaga bicaramu. Ini rumah sakit." Hanny tertawa kecil, suara tawa yang sangat lirih namun sarat akan cemoohan. "Hanny hanya bicara kenyataan, Mbak. Mas Raka memberikan segalanya untuk Ayahmu semata-mata karena kewajiban transaksi. Di matanya, Mbak Rania hanyalah sebuah tebusan yang harus ia pelihara. Jadi, jangan pernah berharap lebih dari sekadar jaminan uang harian, ya?" Setelah mengatakan hal itu, Hanny menepuk bahu Rania sekilas dengan gerakan yang tampak suportif di mata orang luar, lalu melangkah keluar dari ruang perawatan dengan kepala tegak. Malam harinya, Rania baru kembali ke rumah saat jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Rumah itu tampak sepi. Ketika ia menaiki anak tangga menuju lantai dua, ia melihat pintu ruang kerja Raka di lantai bawah masih tertutup rapat, dengan berkas-berkas yang terlihat samar dari celah pintu yang sedikit terbuka. Rania masuk ke dalam kamarnya, membersihkan diri, dan duduk di tepi ranjang. Pikirannya berkecamuk antara kalimat-kalimat beracun Hanny di rumah sakit dan sikap sedingin es yang ditunjukkan Raka setiap harinya. Pernikahan ini baru berjalan lima hari, namun rasanya seperti ia telah dikurung di dalam peti es selama bertahun-tahun. Tok. Tok. Ketukan lambat di pintu penghubung kayu jati mengejutkan Rania. Ia bangkit berdiri, berjalan mendekati pintu yang memisahkan kamarnya dengan kamar Raka. Pintu itu masih terkunci dari kedua sisi. "Rania," suara bariton Raka terdengar dari seberang bilah kayu, berat dan rendah. "Baskara memberi tahu bahwa kau menolak fasilitas sopir pribadi yang kusediakan saat pergi ke rumah sakit siang tadi. Kenapa?" Rania menyandarkan tangannya pada permukaan pintu yang dingin. "Aku bisa naik taksi sendiri, Mas. Aku tidak mau terus-menerus merepotkan fasilitas perusahaanmu." Hening sejenak di seberang pintu, sebelum suara Raka kembali terdengar, kali ini dengan nada ketegasan yang mutlak dan mengintimidasi. "Aku tidak suka penolakan, Rania. Apa pun yang kusediakan di rumah ini adalah untuk menjaga citra pernikahan kita di mata publik. Jika kau keluar tanpa pengawalan dan media menangkapnya, itu akan menimbulkan spekulasi yang tidak perlu. Paham?" Bukan pertanyaan tentang lelahnya hari ini, bukan pula tentang bagaimana perkembangan kesehatan ayahnya. Hanya tentang citra, transaksi, dan batasan hukum. Rania memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan setitik air mata yang akhirnya luruh di pipinya. "Aku paham, Mas Raka. Besok aku akan menggunakan sopirmu. Selamat malam." Tidak ada jawaban lagi dari seberang. Hanya terdengar langkah kaki Raka yang menjauh, meninggalkan Rania yang kembali terduduk di lantai, memeluk lututnya di balik pintu kayu jati yang tetap terkunci rapat di hari kelima pernikahan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN