Bab 4

1011 Kata
Delapan bulan setelah pernikahan itu, Rania masih berusaha mencari celah untuk dekat dengan Nina. Ia membawakan buku cerita bergambar yang ia beli sendiri di toko buku dekat kantor lamanya, duduk di tepi ranjang Nina malam itu, berharap bisa membacakan satu dua halaman sebelum anak itu tidur. "Nina, mau dengar cerita?" tanya Rania lembut, membuka halaman pertama. Nina menatapnya sejenak, lalu menggeleng cepat. "Nggak mau. Nina mau Bunda yang baca." "Bunda lagi di kamarnya, sayang. Boleh Tante yang baca malam ini?" "Nggak!" Nina menarik selimutnya sampai ke dagu, wajahnya cemberut. "Tante bukan Bunda. Tante orang lain." Kalimat itu keluar begitu polos, begitu jujur, sampai terasa lebih menyakitkan daripada seribu sindiran halus Hanny sekalipun. Anak-anak tidak pernah berbohong soal siapa yang mereka anggap penting. Rania menutup buku itu perlahan. "Baik. Tante panggilkan Bunda, ya." Ia keluar kamar dengan daada sesak, berjalan menuju kamar Hanny untuk memanggilnya, lalu kembali ke kamarnya sendiri tanpa berkata apa-apa lagi pada siapa pun malam itu. Keesokan malamnya, keluarga besar Wicaksono berkumpul untuk makan malam bulanan—sebuah tradisi yang selalu dihadiri paman, bibi, dan sepupu-sepupu jauh yang datang lebih untuk basa-basi bisnis daripada kehangatan keluarga. Rania duduk di sisi Raka, memainkan peran istri sempurna seperti yang diminta—tersenyum di saat yang tepat, menuangkan teh untuk tamu-tamu yang lebih tua, menjawab pertanyaan seputar rumah tangga dengan jawaban seadanya. "Rania," panggil Tante Wulan, salah satu adik jauh dari pihak ibu mertua, sambil menyendok sup ke piringnya sendiri. "Sudah berapa lama menikah sekarang? Delapan bulan, kan? Sebentar lagi setahun, lho." "Iya, Tante. Hampir setahun," jawab Rania, tersenyum sopan. "Nah itu dia." Tante Wulan bertukar pandang dengan salah satu bibi lain di seberang meja, nada suaranya berubah jadi lebih usil. "Aduh, delapan bulan menikah, kok belum ada kabar baik. Kapan dikasih momongan, dong? Raka juga sudah butuh penerus, kan, selain Nina." Rania merasa pipinya memanas. Ia meletakkan sendoknya perlahan, mencoba mencari kalimat yang tidak akan membuka lebih banyak pertanyaan. "Masih ... belum rezeki, Tante," jawabnya, suaranya dijaga setenang mungkin. "Atau jangan-jangan ada masalah?" sahut paman yang lain, setengah bercanda, setengah serius, tawa kecilnya menggema di meja makan. "Raka, kamu kan sudah punya pengalaman sama Marsha dulu, cepet dapet Nina. Ini kenapa lama sekali?" Hening sesaat. Beberapa orang di meja tertawa kikuk, tidak yakin apakah lelucon itu pantas diucapkan atau tidak. Rania menoleh ke arah Raka, berharap—entah kenapa masih berharap—suaminya akan mengatakan sesuatu. Membelanya. Mengalihkan pembicaraan. Bahkan hanya menggenggam tangannya di bawah meja sebagai isyarat bahwa ia tidak sendirian menghadapi ini. Tapi Raka tidak melakukan apa pun. Ia hanya menyendok supnya, wajahnya datar seperti biasa, matanya bahkan tidak beralih ke arah Rania sedikit pun. Seolah pertanyaan itu ditujukan pada orang lain, bukan pada istrinya sendiri yang duduk tepat di sampingnya, menahan malu sendirian. "Raka," panggil Ibu Wicaksono akhirnya, memecah keheningan. "Jawab dong, ditanya begitu sama Om Bram." Raka mengangkat wajah, menatap Om Bram sekilas. "Itu urusan pribadi," katanya singkat, datar, lalu kembali menunduk ke piringnya. Kalimat itu memang menghentikan pertanyaan lebih lanjut. Tapi bagi Rania, itu justru terasa lebih menyakitkan daripada jika Raka diam saja. Karena kalimat itu sama sekali tidak menyebut namanya, tidak menyebut mereka berdua sebagai "kami", hanya "itu urusan pribadi"—seolah bahkan topik tentang tubuhnya sendiri bukan sesuatu yang layak dibicarakan Raka di depan umum, apalagi dibela. Di seberang meja, Hanny menyuapi Nina dengan telaten, sesekali melirik ke arah Rania dengan ekspresi yang sulit dibaca—entah kasihan, entah puas, atau ... mungkin campuran keduanya. Selesai makan malam, saat para tamu mulai berpamitan, Rania sengaja tertinggal di ruang makan untuk membantu Bi Surti membereskan meja—alasan yang sebenarnya hanya untuk menghindari basa-basi canggung di ruang tamu. Raka lewat di dekatnya, hendak naik ke ruang kerjanya seperti biasa, tanpa mampir sebentar pun untuk menanyakan keadaannya setelah momen memalukan tadi. "Mas," panggil Rania, memberanikan diri. Raka berhenti, menoleh setengah badan. "Ada apa?" "Tadi ... di meja makan," Rania mencoba menata kata-katanya. "Kupikir kamu bisa bantu jawab sedikit lebih ... aku, maksudku kami, bukan cuma diam saja." "Aku sudah jawab," kata Raka datar. "Itu urusan pribadi, titik. Tidak perlu dijelaskan lebih jauh ke mereka." "Bukan itu maksudku, Mas." Suara Rania mulai bergetar meski ia berusaha keras menahannya. "Aku cuma ... berharap kamu menoleh ke arahku. Sekali saja. Supaya terlihat kalau ini memang masalah kita berdua, bukan cuma masalahku sendirian yang harus kutanggung di depan semua orang." Raka menatapnya lama, ekspresinya tidak berubah sedikit pun. "Aku tidak suka berurusan dengan drama seperti ini, Rania. Kalau kau merasa terganggu dengan pertanyaan mereka, itu urusanmu untuk menghadapinya. Aku tidak bisa mengatur apa yang orang lain tanyakan." "Aku bukan minta kau mengatur mereka," jawab Rania, suaranya nyaris pecah. "Aku cuma minta kamu ada di sisiku. Itu saja." Raka diam sesaat, rahangnya sedikit mengeras, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya untuk membalas itu. Ia hanya berbalik, melangkah menuju tangga, meninggalkan Rania berdiri sendirian di ruang makan yang sudah mulai sepi. "Selamat malam," katanya, tanpa menoleh lagi. Rania berdiri lama di ruang makan yang kosong itu, memandangi punggung Raka yang menghilang di tangga, dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa ia definisikan—bukan hanya sedih, bukan hanya marah, tapi kelelahan yang jauh lebih dalam dari keduanya. Ia sudah delapan bulan menikah dengan pria itu. Delapan bulan berbagi rumah yang sama, nama keluarga yang sama, bahkan status di depan hukum yang sama. Tapi malam ini, duduk di meja yang sama dengan keluarganya sendiri, ditanya soal hal sesensitif kehamilan di depan belasan pasang mata, ia baru sadar dengan jelas satu hal. Raka tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai istri. Bukan hanya soal pintu kamar yang tidak pernah dibuka, bukan hanya soal sentuhan yang tidak pernah ada. Tapi soal keberpihakan paling sederhana sekalipun—seperti menoleh, seperti membela, seperti sekadar berdiri di sisi yang sama saat dunia mempertanyakan dirinya—Raka bahkan tidak pernah repot melakukannya. Ia bertanya-tanya, kalau malam ini yang duduk di kursi itu adalah Hanny, dan yang bertanya soal hal sesensitif itu ditujukan padanya, apakah Raka akan tetap sediam ini. Ia sudah cukup lama tinggal di rumah itu untuk tahu jawabannya, bahkan tanpa perlu membayangkannya lebih jauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN