Renata duduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang. Lampu meja belajar menyala redup, cukup untuk menerangi tumpukan buku sekolah yang berserakan. Seragamnya masih ia kenakan, meski dasinya sudah dilepas. Matanya bengkak, jelas habis menangis. Pintu kamar berderit pelan. Maya, ibunya, masuk dengan langkah hati-hati sambil membawa segelas s**u hangat. “Nak, kamu belum ganti baju? Dari tadi Mama dengar nggak ada suara apa-apa di kamar,” katanya lembut. Renata buru-buru menyeka matanya dengan punggung tangan. “Aku nggak ngantuk, Ma,” ucapnya pelan. Maya meletakkan gelas s**u di meja belajar, lalu duduk di samping Renata. Tangannya membelai rambut anaknya. “Kamu capek, ya? Tadi di sekolah ada apa?” Renata menggigit bibir, menunduk. Lama ia terdiam sebelum akhirnya bersuara, lirih. “Ma… ta

