Matahari baru saja menyinari ruang makan rumah besar itu. Meja sudah tertata rapi dengan roti, jus jeruk, dan sereal. Rosalina duduk di kursi paling dekat Ronald, manis menatap ayahnya. Widya duduk di samping, wajahnya tenang tapi penuh perhitungan. Renata masuk terakhir, rambutnya diikat rapi, wajahnya masih letih. Ia membawa tas sekolah, menunduk, mencoba menghindari pandangan semua orang. “Selamat pagi, Pa,” sapa Renata pelan. Ronald hanya menghela napas dan menoleh sekejap. “Hm. Duduklah.” Suaranya terdengar dingin. Rosalina segera mencondong ke Ronald, senyum manis menghiasi wajahnya. “Papa, aku bantu ambilkan roti untukmu, ya.” Ronald mengangguk, tersenyum tipis. “Terima kasih, Sayang.” Widya menatap Renata sambil berbicara dengan nada lembut tapi penuh maksud: “Renata, coba ma

