Pintu rumah terbuka. Renata masuk dengan langkah pelan, wajah lelah. Rosalina di belakangnya, dengan senyum manis, masih ditemani oleh dua tas belanja kecil yang ia bawa—pemberian teman-teman barunya di sekolah. “Papa!” seru Rosalina riang begitu melihat Ronald yang baru saja pulang kerja dan duduk di sofa. Ronald menoleh, senyumnya lebar. “Hai, Rosa. Gimana sekolahnya hari ini?” “Seru banget, Pa.” Rosalina meletakkan tasnya, lalu langsung duduk di samping Ronald. “Banyak teman baru. Mereka semua baik. Mereka bilang aku mirip Papa, lho.” Ronald tertawa kecil. “Masa? Ya mungkin ada miripnya.” Renata berdiri di dekat pintu, menggenggam tali tasnya erat-erat. Ia ingin langsung masuk ke kamarnya, tapi Widya sudah muncul dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman. “Papa capek, ya? Ni

