Meja makan sudah tertata rapi. Ada roti, selai, telur dadar, dan segelas s**u hangat. Widya yang menyiapkan bersama pembantu, lalu duduk manis di samping Ronald. Rosalina ceria, rambutnya dikuncir dua, seperti anak manis yang penuh kasih. Renata datang dengan langkah pelan, wajahnya masih sembab. Maya menyusul di belakang, membawa piring sendiri karena pembantu tidak memberinya. “Selamat pagi, Pa,” sapa Renata pelan, berusaha ramah. Ronald hanya melirik sekilas. “Hm.” Nada dingin itu membuat d**a Renata sesak. Rosalina langsung menoleh dengan suara manis, “Selamat pagi, Papa. Aku udah habisin s**u aku. Nanti kalau pulang sekolah boleh dibelikan s**u cokelat, ya?” Ronald tersenyum kecil, mengusap kepala Rosalina. “Tentu saja, Sayang. Papa beliin yang banyak.” Renata menunduk, menggen

