Sejenak, Niko menatap Lara sebentar setelah pelukan itu, lalu berkata. “Mandi dulu,” ucapnya singkat. “Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.” "Mas nggak mandi?" "Aku siapkan sarapan dulu buat kita." Lara ragu sejenak, menoleh ke bahan-bahan di meja dapur yang entah sejak kapan sudah berada di kitchen island. “Biar aku aja, Mas—” Niko langsung memotongnya, suaranya tetap rendah, tidak meninggi, tapi ada ketegasan yang tak bisa dibantah. “Dengerkan perintah suami kamu, Lara,” ucapnya sambil menatap Lara lurus. “Hm?” Lara terdiam. Ada sesuatu dalam cara Niko bicara—bukan perintah kasar, melainkan kepastian seorang suami yang tahu apa yang harus ia lakukan. Akhirnya Lara mengangguk kecil. “Iya, Mas.” Ia berbalik, melangkah menuju tangga, lalu naik ke lantai atas. Tak ada kata-kata tambahan

