Lara tercekat. Kata cemburu itu menggantung di udara, memantul di d.a.da dan tenggorokannya seperti gema yang sulit hilang. Ia menatap Niko, terpaku. Sorot mata pria itu bukan lagi sekadar dingin—ada sesuatu di sana yang samar, rumit, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Antara amarah, penyesalan, dan perasaan yang tak ingin diakui. “Mas…” bisik Lara pelan, nyaris tak bersuara. “Kenapa bilang kayak gitu?” Niko tidak menjawab. Hanya menatapnya. Dalam. Tajam. Tatapan itu seperti mengupas lapisan hatinya satu per satu, hingga Lara merasa t.e.l.a.njang di hadapan pria itu—tanpa perisai, tanpa kebohongan. “Mas…” ia mengulang dengan suara parau. “Kamu bilang… cemburu? Tapi kita—” Kalimatnya terhenti. Karena Niko mendekat begitu cepat. “Diem, Lara...” Satu tangan lelaki itu terangkat, me

