Tubuh Lara terjepit di antara kedua lengan Niko, bagai seekor kelinci yang terperangkap oleh pemburu paling bengis. Ia diapit oleh kasur empuk dan dinding kekuasaan lelaki itu. Ranjang mewah itu kini terasa seperti medan pertempuran yang sunyi. Udara kamar mengendap panas; tirai setengah tertutup, menyisakan garis cahaya yang menampar punggung kursi di sudut. Bayangan kisi-kisi jendela jatuh berjejal di sprei, seperti bilah jeruji yang menggambar kurungan kedua bagi Lara. “Kamu kenapa, Mas?! Kenapa kamu kayak gini?!” Lara memberontak liar, kakinya menendang udara. Tumitnya sempat menyapu sisi selimut yang terlipat, menimbulkan suara gesekan. Setiap sentuhan kulit Niko terasa seperti duri yang menusuk di kulitnya; napasnya remuk, pendek-pendek, terjepit di sela d.a.da yang naik turun.

