Bab 107

1061 Kata

Pagi di Lake Como datang dengan cahaya lembut seperti biasanya. Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin dan sinar matahari jatuh hangat di atas seprai putih yang masih kusut. Lara bergerak lebih dulu. Tangannya meraba sisi kasur secara refleks. Hangatnya masih ada, tapi kosong. Ia membuka mata perlahan. “Mas?” suaranya serak, masih setengah mengantuk. Tidak ada jawaban. Biasanya Niko sudah bangun lebih dulu, entah untuk menerima telepon atau sekadar berdiri di balkon menghadap danau. Tapi pagi itu terlalu sunyi. Lara duduk. Rambutnya jatuh berantakan di bahu. Ia menoleh ke kamar mandi—lampunya mati. Pintu balkon terbuka sedikit, angin masuk membawa aroma air dan dedaunan. “Mas?” panggilnya lagi, sedikit lebih jelas. Tetap tidak ada sahutan. Ia turun dari tempat tidur, mengenakan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN