Darah Niko mendidih. Rahangnya mengeras. Ia tidak menjawab. Tubuhnya justru berbalik, refleks hendak naik ke lantai atas. Namun langkahnya terhenti. Tangga itu sudah penuh. Puluhan pria bertubuh besar, berjas hitam, berdiri rapat, tidak bergerak, menutup setiap celah. Wajah-wajah dingin. Mata kosong. Tidak satu pun perlu bicara untuk menjelaskan apa yang terjadi. Niko mengepalkan tangan. Dadanya bergemuruh bukan main. “Jangan sentuh dia, Richard!” geramnya, suaranya rendah tapi penuh amarah. Richard tertawa kecil. Santai. Seolah ini hanya percakapan keluarga biasa. “Itu tergantung caramu,” jawabnya ringan. “Kalau kamu patuh, aku tidak akan menyentuhnya.” Ia meletakkan cangkir kopinya di meja, lalu menatap Niko lurus-lurus. “Kalau tidak,” lanjutnya, suaranya tetap tenang, “kamu tah

