“Anda akhirnya datang juga, Pak Niko,” ucap salah satu kolega dengan nada penuh hormat. Niko hanya mengangguk singkat, senyumnya tipis namun berwibawa. Roy di sampingnya langsung sigap menarik kursi yang sudah disediakan, membiarkan tuannya duduk di posisi utama. Sejak ia muncul, seluruh aura ruangan berubah. Ia bagaikan pusat gravitasi—semua mata seolah tertarik ke arahnya. Ucapannya singkat, gesturnya terkendali, namun jelas memancarkan kharisma yang membuat siapa pun segan. Lara, yang duduk tak jauh dari situ, menunduk dalam. Jantungnya berdegup kacau. Barusan ia masih bisa tersenyum kikuk pada Andra, tapi kini … seluruh tubuhnya kaku. Niko sama sekali tidak menoleh padanya. Seolah ia hanyalah bagian dari ruangan, sekadar bayangan. Tidak ada pengakuan, tidak ada tatapan. Sikapnya sa

