Bab 76

3051 Kata

Kasur itu masih berderak ketika Lara mencoba bangkit. Punggungnya memanas di tempat yang tadi menghantam bedframe saat Niko melemparkannya. Ia baru mengangkat setengah tubuh—napasnya masih patah-patah—ketika bayangan tinggi itu sudah menutup cahaya lampu. Niko menindih, satu telapak menekan sisi kasur, tangan satunya mencengkeram pergelangan Lara di atas kepala. Nafasnya berat, wajahnya dekat, mata hitamnya seperti pisau. “Kenapa pergi sama dia?” suaranya rendah, menggeram. “Kamu janji. Kamu bilang akan menunggu aku pulang. Kamu bilang nggak akan kabur lagi.” Lara menelan ludah. “Mas, lepaskan dulu—sakit.” “Jawab.” “Aku…,” Lara membuang napas pendek, memalingkan wajah dari tatapan tajam itu. “Mas akan menikah, ‘kan? Dengan Marinka. Aku sadar diri. Aku nggak punya tempat di rumah ini.”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN