Pagi itu rumah keluarga besar Van Gerhard terasa seperti bangunan museum—dingin, berkilap, dan terlalu senyap. Lampu gantung kristal menggantung sempurna di foyer, pantulan cahaya di marmer lantai memantulkan sosok pria berjas hitam yang melangkah lurus tanpa menoleh. Niko. Ia tidak datang dengan sopir. Tidak dengan pengawal. Hanya dirinya—dan tekad yang dikanalisasi menjadi langkah-langkah berat yang menelan jarak. Dua satpam yang biasa menyambutnya gulung nyali hanya dengan satu tatap mata. Tak ada salam. Tak ada basa-basi. “Di mana papa?” suaranya datar. “D–di ruang kerja, Tuan,” jawab salah satu satpam, menunduk. Niko tidak mengucap terima kasih. Ia langsung menuju koridor sayap kanan: karpet tebal menelan jejak kaki, lukisan keluarga memandang dari dinding seolah menjadi saksi

