Malam Hari Rumah itu sunyi sekali malam itu. Jam dinding di lorong berdetak pelan, seperti menandai betapa lambatnya waktu bergerak. Lampu kamar remang, hanya satu standing lamp menyala di sudut. Lara duduk di tepi ranjang, punggung bersandar ke headboard, lutut ditarik mendekat, selimut menutup setengah kaki. Ada sisa perih yang mengendap di tubuhnya. Bukan sekedar pegal, tapi kelelahan dari segala yang menumpuk sejak pagi. Ia menatap ponsel di telapak tangan. Layarnya hitam. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada tanda apa-apa dari Niko sejak pria itu pergi pagi tadi ke rumah keluarga besarnya. Sudah lewat jam sebelas. Udara kamar mulai dingin. Tok… tok… Pintu kamar terbuka pelan. Mbok masuk dengan baki berisi teh hangat dan sepotong roti yang tadi tak sempat disentuh. Waja

