Siang masih jauh, tapi sinar matahari sudah menembus tirai tipis dan jatuh seperti garis-garis pucat di lantai kamar. Lara membuka mata pelan. Sekalipun sempat terlelap, kepalanya berat, dadanya seperti diikat simpul yang tak mau longgar. Ia menoleh ke sisi kanannya. Niko ada di sana. Tidurnya tidak benar-benar lelap. Alisnya sesekali berkerut, napasnya panjang namun tak sepenuhnya tenang. Ada sisa-sisa tegang yang tertinggal di garis rahang dan otot lehernya. Lara menatap beberapa detik, lebih lama daripada yang seharusnya. Ada lega karena pria itu pulang utuh semalam. Tapi, tetap saja ada takut karena hari ini jelas tidak akan mudah. Ia menegakkan tubuh bersandar di headboard. Selimut ditarik menutup lutut. Perutnya disentuh pelan—gerak refleks yang belakangan jadi kebiasaan. “Kit

