Pagi itu sangat cerah. Cahaya matahari jatuh lembut menembus kisi jendela dapur, menari di atas meja kayu. Aroma bawang putih yang ditumis bercampur harum kaldu iga memenuhi udara, membuat dapur terasa hidup. Lara berdiri di depan kompor, apron sederhana menutupi gaun tidurnya. Wajahnya teduh, sesekali bibirnya mengulas senyum samar—senyum yang terasa asing bahkan baginya, seolah hatinya sedang menyimpan sesuatu. “Nyonya Lara harusnya nggak usah capek-capek,” suara Mbok memecah kesunyian. Perempuan tua itu sedang memotong-motong sayur di meja samping, sesekali melirik ke arah majikannya yang bersikeras sibuk. “Mbok bisa masak semua yang Non mau masak. Tinggal bilang saja, Non.” Lara tidak menoleh. Ia terus mengaduk sup iga di depannya, uap panas membasahi wajahnya. “Nggak, Mbok. Aku pen

