Bab 43

977 Kata

Aruna memandangi pesan terakhir itu cukup lama. Seolah-olah tiga kata itu memaksa otaknya menelusuri setiap kejadian yang pernah ia alami bersama Rangga. Ia merasakan napas anaknya di bahunya—hangat, stabil—tetapi tubuhnya sendiri tegang seperti ditahan dari dalam. Setelah beberapa detik, ia mencoba mengalihkan perhatian. “Bangun dulu ya, kita cuci muka,” katanya pada anaknya sambil berjalan ke kamar mandi. Anaknya mengangguk pelan. Ia menurunkannya di bangku kecil dekat wastafel, menyalakan keran, dan membasahi wajah mungil itu dengan perlahan. Aruna mencoba fokus pada hal-hal kecil seperti itu, hal-hal yang bisa ia kendalikan. Tapi pikirannya tetap kembali pada pesan itu. “Dia tidak jujur.” Anaknya sudah selesai cuci muka dan beralih sibuk dengan sikat gigi kecilnya. Aruna membenark

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN