Bab 42

975 Kata

Aruna berdiri cukup lama di depan meja makan sambil memandangi layar ponselnya. Pesan itu masih terpampang jelas, dan meskipun hanya dua kalimat pendek, dampaknya jauh lebih besar dari yang ia harapkan. Ia menelan ludah beberapa kali, mencoba menenangkan diri, tapi rasa dingin di tengkuknya tidak hilang. Ia akhirnya meletakkan ponsel di meja, tapi hanya bertahan lima detik sebelum tangannya kembali mengambilnya. Ia membaca ulang pesan itu, memastikan matanya tidak salah. > “Kamu yakin Rangga layak dipercaya lagi?” > “Dia pernah meninggalkan kamu. Jangan lupa alasannya.” Aruna menyandar pada kursi, menarik napas pelan. Kata-kata itu seperti menekan bagian dari masa lalu yang sudah ia tutup rapat. Ia tidak pernah sepenuhnya membicarakan alasan Rangga pergi dulu—bahkan pada dirinya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN