Aruna akhirnya memutuskan untuk menaruh ponsel di kantong celana rumahnya. Ia menatap pintu beberapa detik sebelum memutar kunci. Rasanya seperti ada yang mengintai, padahal halaman depan terlihat biasa saja. Sepi, hanya suara ayam dari rumah tetangga dan motor sesekali lewat jauh di ujung jalan. Ia menggendong tas isi pesanan lalu memegang tangan anaknya sambil berjalan keluar. Setiap langkah terasa lebih hati-hati dari biasanya. Di luar, udara sudah mulai lebih hangat. Jalanan kecil tempat rumahnya berada masih lengang. Tetangga yang biasa menyapu halaman belum terlihat. Tidak ada yang aneh sebenarnya, tapi Aruna tetap beberapa kali menoleh—sekadar memastikan. Ia tahu rasa was-was ini muncul karena pesan tadi. Ia sadar ia sedang terlalu sensitif. Tapi ia tidak bisa menghilangkannya be

