Aruna menatap layar ponsel cukup lama, sampai huruf pada pesan itu terasa seperti menekan balik ke matanya. Ia mencoba bernapas pelan, tapi d**a tetap ketat. Bukan karena pesannya panjang atau mengancam. Justru karena pesannya pendek, to the point, dan terasa seperti seseorang yang benar-benar tahu apa yang pernah terjadi. Ia menekan tombol lock. Layar mati. Tapi kecemasannya tidak ikut mati. Aruna meletakkan ponsel di meja makan, lalu kembali ke wastafel. Ia berniat menyelesaikan cuci piring. Rutinitas biasanya bisa menormalkan pikiran—setidaknya itu harapannya. Namun baru satu piring ia pegang, pikirannya mulai lari lagi. Siapa yang kirim pesan? Dari mana dapat nomor? Apa mereka orang yang pernah dekat dengan Rangga? Atau seseorang dari masa lalu mereka yang dulu menyebabkan semua

