Aruna menaruh ponsel di meja, lalu berdiri sambil memegangi pinggangnya. Tubuhnya tidak sakit, tapi ada sensasi tegang seperti otot-ototnya ikut menahan beban pikiran yang terlalu berat. Ia berjalan ke dapur, membuka kulkas tanpa alasan jelas. Tangannya meraih botol air, tapi hanya dipegang. Tidak diminum. Ia menutup lagi kulkasnya, kembali ke ruang tengah, dan duduk di sofa. Aktivitas kecil yang biasanya membuatnya sibuk mendadak tidak ada gunanya. Aruna baru sadar betapa sunyinya rumah itu tanpa suara Rangga atau celoteh anak mereka yang biasanya sudah bangun jam segini. Kesunyian itu membuat suara notifikasi ponsel tadi seperti gema yang masih berdengung di kepala. Ia mengusap wajahnya, lalu menunduk. Ia mencoba mengingat kembali… adakah orang dari masa lalu yang bisa mengirim pesan

