Bayangan itu hanya muncul sepersekian detik di ujung gang—tapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Aruna menegang seperti terkena sengatan listrik. Nalurinya berteriak keras, sama kerasnya dengan suara hati kecil yang mengingatkan: sesuatu sedang bergerak, dan bukan mereka yang memulai langkah pertama malam ini. Rangga merendahkan tubuhnya sedikit di kursi, menjaga pandangannya lurus pada kaca spion. Tidak ada gerakan lagi. Hanya gang yang sempit, gelap, dan terlalu sunyi untuk ukuran permukiman tua. “Kamu liat?” tanya Aruna pelan. “Iya.” Suara Rangga stabil, tapi rahangnya mengeras. “Ukuran tubuhnya kecil. Atau dia sengaja merendah.” “Dan dia tidak berlari,” lanjut Aruna sambil mengamati sisi-sisi bayangan di luar. “Gerakannya… seperti orang yang tahu dia sedang mengintai.” “Kamu tau p

