Aruna menatap kertas kecil itu sepanjang perjalanan kembali menuju mobil, seolah dua kata singkat itu mampu memberi jawaban yang ia butuhkan. “Pindah rute.” Dua kata yang biasanya sederhana, tapi pada konteks malam itu terasa seperti peringatan terakhir sebelum pintu berbahaya terbuka lebar di depan mereka. Rangga masuk ke mobil lebih dulu, menunggu Aruna duduk. Begitu pintunya tertutup, ia langsung mengunci otomatis. Bukan karena mereka sedang di wilayah yang rawan saja, tapi karena firasat yang sejak tadi menempel kuat di tengkuknya. Ada sesuatu yang mengawasi mereka, tapi ia belum tahu dari mana. “Aruna,” katanya sambil menyalakan lampu kecil di atas dashboard, “jelasin ke aku dari awal. Titik A itu apa?” Aruna membuka map kecil yang ia bawa dari rumah, lalu membuka halaman tengah ya

