Rangga memarkir mobilnya di sisi jalan kecil yang tidak begitu ramai. Lampu-lampu toko sudah banyak yang padam, menyisakan cahaya redup dari tiang-tiang jalan yang tampak seperti berjaga sendirian di malam yang terlalu senyap. Aruna ikut menutup pintu mobil pelan-pelan, seolah takut suara kecil pun bisa memanggil sesuatu yang tidak mereka inginkan. “Ini tempat informan kamu biasanya nunggu?” tanya Rangga sambil melihat ke kiri-kanan. Aruna mengangguk. “Biasanya jam segini dia nongol. Pura-pura beli rokok, lalu nunggu aku di pojok minimarket itu.” Ia menunjuk bangunan kecil dengan papan nama yang berkelip lemah. “Tapi sekarang… gelap.” Rangga memperhatikan bangunan itu lebih dalam. Minimarket tersebut terlihat normal dari jauh, tapi pintunya sedikit terbuka. Tidak lebar, hanya beberapa s

