Aruna menutup pintu ruang interogasi dengan tekanan yang sedikit lebih keras dari biasanya. Tangannya bergetar, bukan karena rasa takut, tapi karena kemarahan yang ia tahan. Semua informasi dari Jaya—saksi yang terlalu banyak tahu—menyatu dalam kepalanya seperti serpihan kaca yang belum lengkap. Sakit, tajam, dan membuatnya sulit bernapas. Rangga, yang sejak tadi memperhatikan dari balik kaca dua arah, menyusul Aruna keluar. “Nafas dulu,” katanya pelan. “Aku baik-baik aja.” “Kamu nggak pernah baik-baik aja kalau udah kaya gitu.” Rangga menyandarkan bahunya di dinding, memandang Aruna tanpa berkedip. “Apa yang dia bilang tadi jelas bikin kamu goyah.” Aruna menutup mata sebentar. “Dia bilang pembunuhan Seno dilakukan seseorang yang punya akses ke unit intelijen… ‘sangat internal’. Itu ka

