Aruna berdiri mematung selama beberapa detik, menatap ponsel retak di tangannya seperti benda itu adalah bukti sebuah dosa yang tidak pernah ia bayangkan akan kembali menghantuinya. Gudang yang tadi hanya terasa sunyi kini berubah menjadi tempat yang menekan napas. Udara dingin mengendap di kulit, dan lantai beton seakan menyerap suara mereka, membuat setiap langkah terdengar terlalu keras. Rangga memantau setiap sudut ruangan. Ia tidak menyentuh Aruna, tapi berdiri cukup dekat untuk menangkap kalau napasnya mulai goyah. “Kita belum tahu apa yang terjadi,” katanya pelan. “Tapi kita tahu sesuatu terjadi di dalam sini.” Aruna meremas ponsel itu, matanya menatap lantai yang penuh debu. “Dia nggak akan ninggalin ponsel kecuali—” “Aruna.” Rangga mengangkat suaranya sedikit, bukan untuk memba

