Udara malam menusuk kulit seperti pisau tipis, namun Aruna tidak peduli. Ia berjalan cepat menyusuri halaman belakang bangunan tua itu, memastikan setiap langkah tidak menimbulkan suara berlebihan. Rangga mengikuti setengah langkah di belakang, ritmenya stabil, tidak terburu-buru tetapi penuh kewaspadaan. “Aku masih nggak ngerti kenapa informan kamu pilih tempat kayak begini buat kontak,” kata Rangga akhirnya setelah beberapa menit berjalan tanpa suara. Aruna tidak langsung menjawab. Ia menatap bangunan tua itu sekali lagi—jendelanya pecah, cat dinding mengelupas, dan sebagian besar struktur terlihat seperti hanya berdiri karena keras kepala. “Karena tempat kayak gini justru aman,” jawab Aruna pelan. “Nggak ada CCTV, nggak banyak orang peduli, dan kalau ada suara sedikit pun kita bisa d

