Lorong bawah tanah itu terasa lebih sempit dari yang Rangga bayangkan. Dinding-dindingnya terbuat dari beton tua yang warnanya kusam, seolah sudah puluhan tahun tidak disentuh manusia. Senter kecil di pergelangan tangan Aruna tidak banyak membantu—cahayanya tipis, hanya cukup untuk menunjukkan batas lantai agar mereka tidak tersandung. “Pelan-pelan,” bisik Aruna. Rangga mengikuti dari belakang. Suara langkah mereka memantul pelan, tercampur dengan gemerisik pipa-pipa logam di kanan kiri lorong. Dari atas, samar-samar terdengar suara seseorang menggerakkan sesuatu. Seperti lemari yang digeser. Lalu langkah-langkah berat yang berjalan ke arah panel tempat mereka turun tadi. Rangga menegang. Aruna berhenti, menoleh sedikit tapi tidak sepenuhnya, hanya cukup agar ia bisa melihat ekspresi R

