Rangga baru saja menutup map terakhir ketika lampu di sudut ruangan berkedip pelan. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat keduanya saling menatap. Aruna segera menegakkan posisi duduknya, sementara Rangga memiringkan kepala, mendengarkan apakah ada suara lain yang menyusul. Tidak ada. Hanya dengung halus komputer di meja dan suara jam yang berdetak stabil. “Listriknya stabil, kan?” tanya Rangga. “Seharusnya,” jawab Aruna. “Kita pakai jalur internal. Kalau ada gangguan… berarti ada yang masuk jalur yang sama.” Rangga refleks menoleh ke arah pintu, seolah membayangkan seseorang menempelkan telinga di baliknya. Namun pintu itu tetap tertutup, kokoh, dan dingin. Aruna berdiri. Ia berjalan ke meja kecil di sudut ruangan, menarik sebuah panel kecil dan menekan dua tombol. Layar

