Pagi itu vila terasa terlalu tenang. Burung-burung terdengar berkicau dari balik jendela, sinar matahari menembus tirai tipis, tapi Aruna tidak merasakan hangatnya sedikit pun. Di meja kerja dekat balkon, Andre sudah duduk sejak subuh. Matanya fokus ke layar laptop, jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Sesekali ia berhenti, menghela napas, lalu menjawab telepon dengan suara yang ditekan serendah mungkin. “Mas…” Aruna memanggil pelan dari arah dapur. “Kopi kamu udah dingin.” Andre tidak menoleh. Ia hanya menjawab singkat tanpa ekspresi, “Nanti aja.” Aruna terdiam. Ia menggigit bibir, menatap punggung pria itu yang terasa begitu jauh, meski jarak mereka cuma beberapa langkah. Setiap kali ia mendekat, Andre buru-buru menutup laptop, seolah menyembunyikan sesuatu. Perut Aruna yang mulai

